Sosialisasi Pelestarian Kukang di Air Naningan: Kolaborasi Nyata untuk Menjaga Primata Terancam Punah

IMG 20250717 163544 scaled

Sosialisasi Pelestarian Kukang di Air Naningan: Kolaborasi Nyata untuk Menjaga Primata Terancam Punah

Loading

JSTNEWS COM – Air Naningan, Di tengah keheningan hutan yang kian menyempit, seekor Kukang primata mungil bermata besar berjuang mempertahankan hidupnya. Di Pekon Batu Tegi Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, secercah harapan muncul lewat kegiatan sosialisasi pelestarian Kukang yang digelar Kamis, 17 Juli 2025.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Pekon Batu Tegi tidak hanya menjadi wadah edukasi, tetapi juga simbol kebangkitan kesadaran bersama akan pentingnya perlindungan satwa langka dan habitatnya.

Sosialisasi yang diprakarsai oleh berbagai pihak ini dihadiri oleh Sekretaris Kecamatan Air Naningan (Sekcam), Ketua Abdesi Air Naningan, Kepala Pekon Batu Tegi beserta , Perwakilan dari PLN Talang Padang, Babinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, karang taruna, hingga warga setempat yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap tema pelestarian satwa.

IMG 20250717 163655
Oplus_131072

Dalam sambutannya, Sekcam Air Naningan menegaskan bahwa Kukang (Nycticebus spp.) adalah satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Ia mengajak masyarakat untuk tidak memelihara, menyakiti, apalagi memperjualbelikan Kukang.

“Undang-undang sudah jelas. Kukang adalah satwa yang dilindungi. Mari kita jaga kelangsungan hidupnya. Jika kita abai, anak cucu kita hanya akan mengenal Kukang dari gambar buku pelajaran, bukan dari alam,” tegas Sekcam.

YIARI,(Yayasan inisiasi Rehabilitasi Indonesia ) lembaga konservasi independen yang sejak 2008 aktif dalam upaya perlindungan satwa liar, khususnya Kukang. Tim YIARI yang terdiri dari enam orang konservasionis datang langsung dari Pusat Rehabilitasi Kukang di Bogor.

Dalam presentasinya, mereka mengungkap bahwa Kukang merupakan salah satu primata dengan tingkat reproduksi paling lambat: hanya satu anak per tahun. Hal ini menjadikan pemulihan populasinya sangat sulit bila terjadi gangguan.

“Kukang bukan hanya lucu dan unik, tapi sangat rapuh. Sekali terganggu, akan sulit sekali untuk memulihkannya. Konservasi tak bisa dilakukan dari kota saja — dukungan masyarakat lokal adalah fondasi utamanya,” ujar salah satu perwakilan YIARI.

YIARI juga memaparkan pendekatan menyeluruh mereka: mulai dari edukasi, rehabilitasi, hingga pengawasan terhadap perburuan dan perdagangan ilegal. Kegiatan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat terhadap Kukang, dari yang dulunya dianggap peliharaan eksotis, menjadi simbol alam yang harus dijaga bersama.

Kehadiran perwakilan dari PLN Unit Talang Padang juga memperkaya diskusi dengan pendekatan yang konkret. Samsul Hadi, perwakilan dari PLN, menjelaskan langkah preventif yang mereka ambil demi melindungi Kukang dari risiko tersengat listrik saat memanjat tiang atau kabel.

PLN telah melakukan inovasi seperti pemasangan Cover Gardu, kabel XLPE, dan pengaman tambahan Tutor untuk menghindari kontak satwa dengan instalasi listrik.

“Kami sadar, infrastruktur kami bisa jadi ancaman bagi satwa. Maka dari itu, kami lakukan penyesuaian teknis untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman baik untuk manusia maupun Kukang,” jelas Samsul.

Dukungan penuh juga datang dari Kepala Kawasan Pelestarian Alam (KPA) Batutegi, yang diwakili oleh Dikki. Ia mengingatkan bahwa Kukang hanya bisa bertahan hidup dalam ekosistem hutan yang sehat. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan adalah tugas kolektif semua pihak.

“Jangan abaikan lingkungan. Menjaga hutan berarti menjaga nyawa — bukan hanya Kukang, tapi juga kita semua yang bergantung pada keseimbangan alam,” pesan Dikki dengan penuh haru.

Di penghujung kegiatan, seluruh pihak menyampaikan harapan besar: menjadikan Kukang sebagai ikon ekowisata konservatif di wilayah Air Naningan. Dengan pendekatan yang tidak sekadar melindungi, tapi juga mengembangkan potensi wisata berbasis edukasi lingkungan, Kukang bisa menjadi daya tarik tersendiri sekaligus mendongkrak perekonomian warga secara berkelanjutan.

Visi ini memerlukan konsistensi, kolaborasi lintas sektor, serta komitmen jangka panjang mulai dari pemerintah pekon, dunia usaha, aparat penegak hukum, hingga masyarakat sipil.

Air Naningan telah memulai langkahnya. Lewat kegiatan ini, bukan hanya suara-suara perubahan yang digaungkan, tapi juga tindakan nyata yang ditanamkan. Di tengah ancaman kepunahan, Kukang kini mendapat harapan baru . bukan karena keberuntungan, tetapi karena kepedulian yang mulai tumbuh dari akar rumput.

Semoga dari Kecamatan Air Naningan, lahir inspirasi bagi daerah lain untuk menyuarakan hal yang sama: bahwa satwa bukan untuk dipelihara, tapi untuk dibiarkan hidup bebas di alamnya. ( Kurdi)

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network

You cannot copy content of this page