- Banten
- Berita Terkini
- Keagamaan
- Kebudayaan
- Lainnya
- Modern
- Serba-serbi
- Sosial
- Tradisional
- Wisata & Ziarah
Masjid Nurul Hikmah Kosambi Dalem: Bercermin Pada Cahaya Hikmah Dan Ketenangan Jiwa “Safar Risalah Ke Mulud Isuk”
Banten β Di antara hiruk-pikuk kehidupan, Masjid Nurul Hikmah menjadi ruang perenungan tentang perjalanan manusia mencari ketenangan, menata hati, serta kembali mengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas.(12/8)
βBercahaya dalam hikmahβ bukan sekadar rangkaian kata. Ia dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menghadirkan cahaya kebajikan dalam diri manusia: melalui ibadah, adab, kejujuran, kesabaran, dan kesadaran bahwa setiap perjalanan kehidupan pada akhirnya akan menuju pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Syeckh Abdul Qadir Jaelani, membangunkan umat Islam memanggil penuh hikmah pada nikmat yang diiringi para malaikat “penyejuk udara adem – hati dadi ngerikan ketenangan tanpa harus bepergian di mudharat iman perbuatannya”
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW dikenal melakukan tahannuts dan berkhalwat di Gua Hira, Jabal Nur, sebelum menerima wahyu pertama. Peristiwa tersebut merupakan bagian penting dalam sejarah kenabian dan menjadi salah satu titik awal perjalanan risalah Islam. Karena itu, kisah Gua Hira hendaknya ditempatkan sebagai landasan sejarah-keagamaan, bukan sebagai mitos atau cerita yang bersifat spekulatif.
Dari sanalah renungan tentang manusia menemukan relevansinya. Seberapa jauh seseorang menempuh perjalanan hidup, seberapa tinggi kedudukan yang dicapai, dan seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, semuanya pada akhirnya tidak dapat dibawa ketika manusia kembali kepada Sang Pencipta.
Bagi siapa pun yang memegang amanahβtermasuk pejabat dan pemimpinβkekuasaan bukanlah tanda keabadian. Jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Ketika manusia berada dalam kesunyian, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa kerabat dan tanpa pengiring, yang tersisa adalah amal, iman, dan ketakwaan.
Jejak kaki manusia akan berhenti di dunia, sementara perjalanan menuju akhirat tidak mengenal batas kekuasaan. Padang Mahsyar dalam keyakinan Islam menjadi gambaran tentang berkumpulnya manusia untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya masing-masing.
Maka pertanyaannya sederhana, tetapi dalam: sudahkah kita membereskan perjalanan hidup? Sudahkah amanah ditunaikan? Sudahkah waktu digunakan untuk kebaikan?
Kehidupan dunia terus berjalan. Jabatan berganti, zaman berubah, kekayaan datang dan pergi. Namun, nilai sebuah kehidupan tidak semata-mata diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari apa yang ditinggalkan dalam bentuk kebaikan menuju kebenaran.
Masjid, pada akhirnya, bukan hanya bangunan tempat manusia bersujud. Ia juga dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari kegaduhan duniaβmengoreksi diri, memperbaiki adab, memperkuat iman, dan mengingat kembali tujuan akhir perjalanan manusia.
Nurul Hikmahβcahaya yang mengajak manusia kembali kepada hikmah: bahwa setinggi apa pun perjalanan dunia, manusia tetap akan kembali kepada Allah SWT.
Perdalam ketauhidan pada ketaatan sebelum ditemukan oleh pencipta-Mu.
Redaksi | 12 Agustus 2026
























