GASKAN Menanggapi Kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman Aceh Adalah Akibat Mengikisnya Kepercayaan Rakyat
BANDA ACEH β Sekjen Gerakan Suara Keadilan Netizen (GASKAN) berharap kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak terpancing oleh provokasi dan kericuhan yang terjadi hari ini di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. GASKAN menegaskan bahwa bagaimanapun kondisi saat ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap harus dipertahankan bersama-sama, karena Aceh adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia dan kita semua adalah satu bangsa.
Himbauan ini dikeluarkan menyusul insiden yang mewarnai peringatan Hari Damai Aceh ke-21, Sabtu (15/8/2026). Dalam kegiatan zikir dan orasi tersebut, massa menurunkan bendera Merah Putih dari tiang utama dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang, serta meneriakkan “Merdeka” berulang kali. Situasi memanas ketika aparat TNI-Polri diusir dari perkarangan masjid, diikuti lemparan batu, pembakaran sepeda motor, hingga penggunaan water cannon dan gas air mata oleh pihak keamanan.

Sekjen GASKAN Andi Muhammad Rifaldy menyatakan bahwa tindakan anarkis dan simbolisasi pemisahan diri seperti pengibaran bendera non-negara di ruang publik bukanlah solusi, melainkan cerminan dari luka sosial yang mendalam.
“Kami menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan rasional. Jangan biarkan emosi sesaat merusak persatuan yang telah dibangun dengan darah dan air mata para pejuang pendahulu. Namun, kami juga harus jujur mengakui: seperti inilah rakyat ketika hilang kepercayaan,” ujar Sekjen GASKAN dalam keterangannya.
GASKAN menilai bahwa kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman adalah akibat dari akumulasi rasa ketidakadilan yang dirasakan masyarakat Aceh selama bertahun-tahun. Ketika aspirasi damai tidak didengar dan hukum terasa tumpul atau diskriminatif, maka frustrasi akan mencari saluran ekspresi yang ekstrem, termasuk di momen sakral seperti Hari Damai Aceh.
Oleh karena itu, GASKAN juga menyampaikan himbauan keras kepada Pemerintah Pusat maupun Daerah Agar :
1. Evaluasi Penegakan Hukum: Segera audit penanganan kasus-kasus sensitif di Aceh bahkan seluruh Nusantara agar semua benar benar merasakan kemerdekaan. Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, bukan hanya saat ada kerusuhan.
2. Dialog Substantif: Jangan hanya mengandalkan pendekatan keamanan (security approach). Dengarkan keluhan riil masyarakat tentang ekonomi, politik, dan implementasi MoU Helsinki yang sering dianggap belum optimal.
3. Jaga Simbol Persatuan: Penggantian bendera negara di fasilitas publik adalah pelanggaran hukum yang serius, namun pemerintah juga wajib introspeksi mengapa simbol negara kehilangan kehormatannya di mata sebagian warga.
“Aceh adalah Kita, dan Kita adalah Indonesia. Mari kita pertahankan NKRI bukan dengan paksaan senjata semata, tapi dengan menghadirkan keadilan yang nyata. Jika keadilan hadir, maka kedaulatan negara akan dijaga dengan sukarela oleh rakyatnya. Agar Indonesia tetap merdeka, maka rakyatnya harus merasa merdeka dari ketidakadilan,” ingat komitmen kita NKRI Harga Mati pungkas Sekjen GASKAN.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Masjid Raya Baiturrahman masih dalam pengawasan ketat aparat, sementara penyebab pasti pemicu kericuhan masih terus diselidiki. GASKAN berharap semua pihak dapat menahan diri dan menyelesaikan masalah melalui jalur konstitusional demi menjaga marwah Aceh dan keutuhan NKRI.
Redaksi | 15 Agustus 2026
























