H. Emir Nuswantoro Kunjungi Bank Sampah Hijau Langit di nDalem Pakuningratan
JST-NEWS.COM | YOGYAKARTA

Luas Kota Yogyakarta yang hanya sekitar 1 % dari luas Daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak punya lahan yang cukup luas untuk menampung dan mengolah sampah secara optimal. Salah satu solusi dalam menanggulangi volume sampah rumah tanga yang semakin membludak ini, saya mengajak warga memanfaatkan lobang Biopori kompos. Selanjutnya saya berharap ada usulan pembangunan untuk menangani sampah pada Musrenbang 2025 yang akan digelar sekitar Februari tahun 2025,” tutur Haryawan Emir Nuswantoro, SS, SE., Ketua LPMK Kadipaten pada saat Pelatihan Pembuatan Kompos di Bank Sampah Hijau Langit RW.15 di Komplek nDalem Pakuningratan, Kelurahan Kadipaten Kemantren Kraton Yogyakarta, Sabtu (10/8).
“Kami akan membuat lubang Biopori ini secara gotong royong dan sebelum 17 Agustus Insya Allah sudah terpasang semua pralon ini. Kami berterimakasih mendapat bantuan Biopori dari Danais ini,” ucap Endang Werdiningsih, Ketua RW. 15 didampingi Ketua RT Heri Risdianto dan Sudarminto.
Hadir dalam Pelatihan Pembuatan Kompos ini Lurah Kadipaten, Suparman, S.Sos, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Rahayu, STP, serta Ketua Forum Bank Sampah M. Taufik yang hadir bersama Faskel Bank Sampah Sukarsih Taufik dan Yanto AR.
Taufik, Ketua Forum Bank Sampah berharap Bank Sampah Hijau Langit, Pemuda, PKK dan Warga RW. 15 bersinergi mengupayakan Gerakan Organikkan Jogja sehingga dapat mengurangi volume sampah dan sekaligus dapat mengikuti jadwal Depo Ngasem.
Endang Werdiningsih, yang juga pernah menjabat Ketua TP PKK Kadipaten mengaku siap berkolaborasi dengan Pemuda, PKK, LPMK Kadipaten dan Bank Sampah untuk bergerak menanggulangi sampah. “Posisi wilayah kami di depan Pasar Ngasem dan berhimpitan degan Kraton Kilen ini harus kami jaga untuk senantiasa bersih dan tidak ada tumpukan sampah liar,” pungkas Endang.
Di akhir acara Suparman dan Emir secara simbolis menyerahkan 5 buah peralatan bor, 5 buah peralatan pemanen kompos, 54 buah pralon lobang biopori dan tutup conblok. “Monggo dimanfaatkan dan dirawat,” harap Suparman.
























