Lunturnya Integritas Jurnalis: Ketika Kepentingan Mengalahkan Profesionalisme
JSTNEWS COM – Lampung, Pringsewu. Seiring dengan runtuhnya Orde Baru dan hadirnya era Reformasi, dunia pers yang dulunya penuh dengan idealisme, kini seolah berubah menjadi medan pertempuran yang mematikan. Sabtu (24/08/2024), semakin banyak orang yang mencoba menggantungkan hidupnya sebagai wartawan atau jurnalis. Profesi yang seharusnya menjadi pilar demokrasi, kini sering terdistorsi oleh kepentingan pribadi.
Jumlah pekerja media yang terus membludak menciptakan kompetisi yang tak sehat. Di antara gesekan-gesekan ini, ada mereka yang memilih jalan gelap, mengabaikan kode etik, dan menggadaikan integritas demi secuil kekuasaan dan materi.
Aturan hukum dan kode etik yang seharusnya menjadi pedoman, kerap diabaikan oleh para oknum yang lebih mengedepankan ‘nafsu’ kepentingan pribadi. Mereka rela menancapkan taring pada kawan sendiri, menjadikan rekan sesama jurnalis sebagai batu loncatan untuk mendekat pada pemangku kebijakan.
Lebih menyedihkan lagi, mereka yang dahulu mungkin menjunjung tinggi prinsip, kini berubah menjadi ‘anjing penjaga’ yang setia menggonggong ketika ada yang mencoba menyentuh majikan mereka. Demi ambisi pribadi, para oknum ini tak segan mengorbankan profesionalisme, meruntuhkan netralitas, dan menjadikan jurnalistik sebagai alat kepentingan.
Di balik senyum yang mereka tampilkan, tersembunyi permainan kotor yang seolah tak ada habisnya. Mereka tak segan menjadikan teman sejawat sebagai musuh, selalu merasa benar dan merendahkan yang lain demi menjaga posisi aman di sisi juragan. Sikap ‘Playing Victim’ menjadi senjata utama mereka, mencitrakan diri sebagai pahlawan kebenaran sementara di balik layar, mereka sibuk menjilat dan menindas.
Profesi mulia ini kini tercemar oleh segelintir oknum yang menggadaikan idealisme untuk kenyamanan pribadi. Sungguh, ini bukan hanya pengkhianatan terhadap rekan seprofesi, tapi juga pengkhianatan terhadap rakyat yang berhak mendapatkan informasi yang jujur dan berimbang. Ketika independensi dan profesionalisme luntur, yang tersisa hanyalah bayangan buram dari apa yang seharusnya menjadi pilar keadilan dan kebenaran. (Red)
























