- Berita Terkini
- Banten
- Bengkulu
- Daerah Khusus Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kalimantan
- Karya Sastra
- Keagamaan
- Kesehatan
- Maluku
- Merauke
- Nasional
- Papua Nugini
- Pemerintahan
- Sains Dan Teknologi
- Serba-serbi
- Sosial
- Sulawesi
- Sumatera
- TNI - POLRI
Ratapan Para Nabi Menanti Umat-Nya: Selamat Ulang Tahun Presiden RI Prof.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Nasional — Ketika Mukmin Menjadi Pemimpin: Amanah, Bukan Panggung Kesombongan (8/9/2026:04.01)

Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu berbicara tentang agama, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai agama dalam sikap, keputusan, dan pelayanan kepada rakyat.
Seorang pemimpin yang mengaku sebagai mukmin semestinya memahami bahwa kekuasaan bukanlah ukuran kemuliaan.
Jabatan hanyalah amanah yang suatu hari akan dipertanggungjawabkan, sementara rakyat bukanlah alat untuk memenuhi kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, maupun ambisi duniawi.
Kritik ini bukan ditujukan kepada satu nama atau satu golongan. Ini adalah refleksi bagi setiap pemimpin dan siapa pun yang diberi amanah kepemimpinan di negeri ini.
Jangan sampai nilai keimanan berhenti pada simbol, sementara hati kehilangan kepekaan terhadap penderitaan masyarakat. Jangan sampai ilmu agama menjadi kata-kata indah, tetapi perilaku justru mempertontonkan sikap jumawa, tamak, merasa paling berkuasa, dan jauh dari keteladanan.
Pemimpin Mukmin Seharusnya Mendidik dengan Keteladanan
Setiap pemimpin memiliki kesempatan untuk memberikan edukasi mulia kepada siapa pun, tanpa membedakan kedudukan, latar belakang, ataupun kelompok.
Keteladanan itu dimulai dari hal sederhana: jujur ketika berkuasa, adil ketika mengambil keputusan, rendah hati ketika dipuji, berani menerima kritik, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk memuaskan keserakahan dunia.
Sebab ukuran seorang pemimpin bukan hanya seberapa tinggi kursinya, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Melawan Jahiliyah Sikap dan Sifat Jumawa : Jahiliyah tidak selalu berbentuk ketidaktahuan.
Dalam konteks moral, ia juga dapat tercermin ketika manusia mengetahui kebenaran tetapi memilih kesombongan, mengetahui amanah tetapi mengejar keuntungan pribadi, serta memiliki kekuasaan tetapi kehilangan rasa kemanusiaan.
Karena itu, perjalanan seorang mukmin seharusnya membawa manusia dari rasa menuju hati, dari hati menuju jiwa, dan dari jiwa menuju kesadaran ruhani —bahwa kehidupan dunia bukan tempat untuk menumpuk keserakahan, melainkan ruang untuk menanam amal dan kemaslahatan.
Pemimpin boleh memiliki kekuasaan, tetapi jangan sampai kekuasaan memiliki hatinya.
Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar terlihat sempurna.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang mau belajar, mau dikritik, mau memperbaiki diri, dan mampu membuktikan keimanannya melalui akhlak serta keadilan.
Sebab kepemimpinan yang mulia bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri di atas, tetapi siapa yang paling sungguh-sungguh menjaga mereka yang berada dalam amanahnya.
“Jadilah pemimpin yang meninggalkan keteladanan, bukan ketakutan; meninggalkan kemaslahatan, bukan keserakahan; dan meninggalkan akhlak,
bukan kesombongan.”
#RasaHatiJiwaDanRuh
#EdukasiMulia
#KritikKepemimpinan
#PemimpinAmanah
#LawanSikapJumawa
#IndonesiaBerakhlak
Oh, iya untuk hari ini juga kami tim keredaksian berikan rasa takjim dan haturan terhadap jasa-jasa yang pernah dialami kepada mantan; Presiden RI Prof.H.Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai ketulusan umat beragam sesama seirama dibentukan milad beliau jatuh pada tanggal 9 September 2026 ini.
“semoga diberikan kesehatan, ketulusan hati, kelapangan terhadap keluarga besarnya dalam membina kerukunan sesama secara periodik, relevan, dan dedikasi murni senyum yang selalu dipaparkan bernilai histori masa kepemimpinannya di Indonesia”
setiap Presiden RI yang membina interaksi sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mengantarkan masa ke masa regenerasi muda-mudi tetap tumbuh serarah pada jalan memory penuh cinta kasih” Selamat Ulang Tahun Presiden RI Prof.H.Susilo Bambang Yudhoyono jasamu ada disetiap Warga Negara Indonesia.
#Sehat Selalu diberikan anak, cucu kedepan selanjutnya sempurna pada bekal kepemimpinan disiplioner menjulang selalu untuk selamanya dibarokahi rezekinya dan dikasihi oleh Nabi Muhammad SAW dapat bertemu esok pada ketaatan kepada Allah SWT.
Pemimpin Kharismatik Diplomat Of Smart To Human Society; tanpa ada ilmu ghodhob selalu senyum untuk Warga Negara Indonesia.
Penulis Naskah dikutip oleh; Tim 3 Pers PLUS (Jakarta)
Redaksi | 9 September 2026
























