PENTAS TEATER BUNGA MERAH DAN OPERA MERAH PUTIH MERIAH, RATUSAN PENONTON PADATI GEDUNG PERTUNJUKAN BULUNGAN
JAKARTA SELATAN, Indonesia JST NEWS — Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, menjadi ruang pergelaran seni pada Minggu (13/9/2026). Sanggar Kencana Buana (SKB) pimpinan Iqbal Boyratan menghadirkan dua produksi, yakni Pentas Teater Bunga Merah dan Pentas Teater Opera Merah Putih, yang mendapat sambutan antusias dari penonton.
Sekitar 340 kursi yang tersedia terisi. Sejumlah penonton terlihat berdiri dan duduk di tangga tribun karena tidak memperoleh tempat duduk. Pemandangan tersebut menunjukkan tingginya minat penonton terhadap pertunjukan yang melibatkan pelajar dan dikemas dengan unsur artistik yang beragam.
Rangkaian acara diawali opening act, teatrikal puisi, penampilan band, paduan suara SLF, serta sajian tari dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan. Pergelaran turut dihadiri pejabat, tokoh masyarakat, akademisi, praktisi seni, mahasiswa, guru, dan insan media.
Bunga Merah: Pelajar SMP Menghidupkan Konflik Keluarga
Pertunjukan pertama, Teater Bunga Merah, dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Seluruh pemainnya merupakan pelajar SMP Bakti Idhata.
Para pemain muda tersebut membawakan konflik keluarga yang berpusat pada tokoh Aruna, seorang anak yang menghadapi persoalan emosional antara ibu kandung dan ibu asuh.
Dalam cerita, Aruna berada di antara Larassati, ibu yang melahirkannya, dan Ratu Maheswari, perempuan yang merawat serta membesarkannya. Konflik tersebut berkembang menjadi pertanyaan tentang hubungan darah, pengasuhan, kasih sayang, dan makna keibuan.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian penonton adalah ketika rahasia hubungan antartokoh mulai terungkap. Sejumlah penonton terlihat menitikkan air mata saat menyaksikan adegan-adegan emosional tersebut.
Apresiasi juga disampaikan para guru dan Ketua Yayasan Bakti Idhata terhadap keberhasilan para siswa membawa cerita ke atas panggung. Kekuatan pertunjukan ini terletak pada kemampuan pemain membangun relasi antartokoh, sehingga konflik tidak berhenti pada dialog, tetapi dapat dirasakan secara emosional.
Opera Merah Putih: Perpaduan Teater, Opera, dan Tari
Pertunjukan berikutnya, Opera Merah Putih, menghadirkan kisah Raja Arzil dan empat permaisurinya. Produksi ini menggabungkan permainan aktor, opera, tari, koreografi, musik, kostum, tata panggung, dan properti dalam satu kesatuan pertunjukan.
Kemegahan panggung dibangun melalui perpaduan unsur visual dan musikal. Tata adegan yang terstruktur membantu menjaga alur cerita, sementara koreografi memperkuat perpindahan adegan dan atmosfer dramatik.
Kostum, properti, musik, dan gerak para pemain tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi turut membangun dunia cerita. Perpaduan tersebut membuat Opera Merah Putih tampil sebagai pertunjukan yang kaya warna dan menawarkan pengalaman artistik yang berbeda.
Astrada Menjaga Plotasi dan Konstruksi Adegan
Di balik kedua pertunjukan tersebut, kerja para astrada menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan adegan, karakter, plotasi, dan jalannya cerita.
Pada Bunga Merah, para astrada Kiki Vijalika, Khairunnisa Cahya, Escia Gendis, dan Dinda Alit berperan dalam mengawal pengaturan alur serta konstruksi adegan, sehingga permainan para pelajar tetap berada dalam jalur dramatik.
Sementara itu, pada Opera Merah Putih, Michelle Angelica, Griselda Aurelia, dan Gege mengawal detail adegan, plotasi, serta hubungan antarkarakter di tengah kompleksitas unsur opera, tari, musik, dan teatrikal.
Pendekatan realis elementer dan realis simbolik turut menjadi bagian dari bahasa artistik kedua pertunjukan. Melalui pendekatan tersebut, panggung tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya cerita, tetapi juga sebagai ruang pembentukan simbol, atmosfer, dan relasi emosional.
Teater Pelajar dan Masa Depan Kebudayaan
Pentas Bunga Merah dan Opera Merah Putih memperlihatkan bahwa pelajar dapat mengambil peran penting dalam kehidupan seni pertunjukan ketika memperoleh pembinaan, pendampingan, dan ruang pentas yang memadai.
Teater menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan kemampuan akting, kedisiplinan, kerja kolektif, penguasaan teks, blocking, koreografi, serta keberanian tampil di hadapan publik.
Kehadiran penonton dari berbagai kalangan—mulai dari masyarakat umum, guru, tokoh masyarakat, akademisi, praktisi seni, mahasiswa, hingga insan media—menambah makna pergelaran tersebut sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Jakarta Selatan juga menyampaikan pesan agar generasi muda terus berkarya dan mengembangkan seni budaya Indonesia, termasuk membuka peluang agar karya mereka dapat dikenal lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.
Pelajar SMP Bakti Idhata Tampil dalam Bunga Merah, Opera Merah Putih Sajikan Perpaduan Teater, Opera, dan Tari
Pesan tersebut disambut antusias para peserta teater muda dengan seruan:
“SIAP, PAK WALI!”
Seruan itu menjadi salah satu momen yang menggambarkan semangat generasi muda untuk terus menjaga keberlangsungan seni pertunjukan.
Pentas di Bulungan pada 13 September 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan kesan melalui kemegahan panggung dan kekuatan cerita, tetapi juga melalui pesan bahwa pelajar tidak harus menunggu dewasa untuk berkontribusi dalam kebudayaan.
Bunga Merah menghadirkan kekuatan emosi. Opera Merah Putih menghadirkan perpaduan visual dan musikal. Keduanya bertemu dalam satu ruang: panggung sebagai tempat belajar, berkarya, dan merawat kehidupan kebudayaan.(*)
Imron R. Sadewo (Bocah Angon) Tim 3 Pers PLUS Redaksi | 13 September 2026

























