- Berita Terkini
- Banten
- Bengkulu
- Daerah Khusus Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kalimantan
- Keagamaan
- Lainnya
- Maluku
- Merauke
- Modern
- Nasional
- Papua Nugini
- Pemerintahan
- Pendidikan
- Sains Dan Teknologi
- Serba-serbi
- Sosial
- Sulawesi
- Sumatera
- Tradisional
Seberapa Amankah ANDA Membaca APA KATA ISI DUNIA?
Jakarta — Di tengah derasnya arus informasi dunia, masyarakat menghadapi tantangan besar dalam membedakan fakta, opini, informasi yang menyesatkan, serta berita yang berpotensi memecah belah persaudaraan. Membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh pengetahuan, melainkan juga tanggung jawab moral untuk memahami kebenaran, menghormati perbedaan, dan menjaga kemanusiaan.(29/10/2026)

Pertanyaan mendasarnya adalah: seberapa aman informasi yang kita baca, kita percayai, dan kita sebarkan kepada orang lain?
Keamanan membaca tidak hanya berkaitan dengan perlindungan data pribadi atau ancaman di ruang digital. Keamanan juga menyangkut ketepatan informasi, kesehatan cara berpikir,
kebebasan dari prasangka, serta dampak suatu pemberitaan terhadap kehidupan sosial. Informasi yang keliru dapat menimbulkan kesalahpahaman, sedangkan informasi yang disebarkan tanpa pemeriksaan dapat memperbesar konflik di tengah masyarakat.
Dalam konteks ini, Al-Qur’an memberikan landasan etis yang kuat tentang pentingnya membaca, berpikir, memeriksa kebenaran, dan memperlakukan sesama manusia secara adil.
1. Membaca adalah Jalan Memperoleh Pengetahuan
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5:
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Potongan ayat 4–5.
Artinya:
“Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq [96]: 4–5)
Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 mengawali wahyu pertama dengan perintah membaca (iqra’). Pesan ini menempatkan pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.
Dalam perspektif literasi modern, membaca perlu disertai kemampuan memahami konteks, menguji sumber, mengenali perbedaan fakta dan opini, serta menilai apakah informasi yang diterima dapat dipertanggungjawabkan.
Artinya, semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana. Membaca seharusnya membuka wawasan, bukan membangun kebencian.
2. Periksa Informasi Sebelum Mempercayai dan Menyebarkannya
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 6,)
Ayat tersebut mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa dan mengklarifikasi informasi sebelum mengambil keputusan berdasarkan berita yang diterima.
prinsip ini selaras dengan verifikasi fakta, pemeriksaan sumber, konfirmasi kepada semua pemaham keilmuan dan penyampaian informasi secara kontekstual.
Di era media sosial, satu pesan yang belum terverifikasi dapat menyebar kepada ribuan orang dalam hitungan menit. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri untuk tidak langsung mempercayai judul sensasional, potongan video tanpa konteks, maupun pesan berantai yang mengandung tuduhan terhadap kelompok tertentu.
Membaca dengan cerdas berarti tidak mudah terprovokasi. Membagikan informasi dengan bertanggung jawab berarti ikut melindungi masyarakat dari kesalahpahaman.
3. Perbedaan Bukan Alasan untuk Saling Membenci
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13, bagian ini mengkaji tetesan sebuah bacaan ayat untuk selalu tersirat pada langkah akal pikiran insan merujuk kunci isi dunia anda seberapa mampu membelah diri antara agama, dunia, dan akhirat kelak bertemu)
Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman manusia merupakan kenyataan kehidupan yang harus disikapi dengan saling mengenal, bukan saling merendahkan.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan latar belakang agama, suku, budaya, bahasa, dan keyakinan yang beragam.
Kerukunan tidak menuntut setiap orang memiliki keyakinan yang sama. Kerukunan tumbuh ketika setiap orang mampu menghormati hak sesama, menjaga perkataan, menghindari diskriminasi, dan menyelesaikan perbedaan secara damai.
Oleh sebab itu, informasi keagamaan perlu disampaikan secara bertanggung jawab. Jangan sampai pengetahuan yang seharusnya membimbing manusia menuju kebijaksanaan justru digunakan untuk menghina, menghasut, atau merendahkan pemeluk agama lain.
Berbeda keyakinan bukan alasan untuk menghilangkan rasa kemanusiaan. Menghormati sesama tidak mengharuskan seseorang meninggalkan keyakinannya sendiri.
Literasi Pengetahuan, Hikmah Al-Qur’an, dan Kepedulian Sesama dalam Merawat Kerukunan Umat Beragama.
Ketika umat membaca dunia, maka akan terjadi kepastian dalam diri – bagaimana meraih masa ke masa kelak diperoleh.
Sumber Kajian@Dzhoirulbathin Billah
Redaksi | 29 Oktober 2026
