TIGA ALAM : Bagaimana Akhwat Tersampaikan Dari Sebuah Makna ini? Mengenal – Berpikir – Membentuk, Masuk Ke Liang Lahat itu dibaringkan
Jakarta dan sekitarnya, Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang yang tidak berhenti pada kehidupan dunia. Dalam perspektif ajaran Islam, setiap insan diajak memahami keberadaan dirinya, mengenal kebesaran Allah SWT, serta mempersiapkan amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.(6/11/2026)
Pesan tersebut menjadi inti kisah edukasi keluarga yang diperankan oleh seorang ibunda, Siti Muzdalifah, bersama ketiga puterinya, yakni Saryanti Nugroho sebagai puteri pertama, Rahma Azhari Alawiyah sebagai puteri kedua, dan Diana Nurillah sebagai puteri ketiga.
Melalui ilustrasi pohon kehidupan atau Syajaratul Kaun, keluarga ini diajak memahami tiga konsep alam yang menjadi bahan refleksi spiritual, yaitu Alam Mulk, Alam Malakut, dan Alam Jabarut.
Ibunda Siti Muzdalifah memberikan pemahaman kepada puteri-puterinya bahwa Alam Mulk menggambarkan alam nyata, tempat manusia menjalani kehidupan sehari-hari.
Di alam inilah manusia mempunyai tanggung jawab menjaga ibadah, kehormatan diri, hubungan keluarga, kepedulian sosial, serta menjalankan amanah kehidupan.
Saryanti Nugroho kemudian memahami bahwa kehidupan dunia bukan sekadar mengejar materi dan penampilan, melainkan kesempatan memperbanyak amal saleh.
Rahma Azhari Alawiyah menambahkan bahwa seorang perempuan harus memiliki ilmu, menjaga akhlak, memahami tanggung jawab, dan senantiasa menjunjung nilai kehormatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara Diana Nurillah memahami bahwa kebaikan sekecil apa pun tetap mempunyai nilai apabila dilakukan dengan keikhlasan dan niat karena Allah SWT.
Selanjutnya, ibunda menjelaskan Alam Malakut sebagai bagian dari pembahasan alam gaib yang dalam ilustrasi tersebut dikaitkan dengan alam malaikat.
Dalam ajaran Islam, keimanan kepada malaikat merupakan salah satu rukun iman. Manusia tidak dituntut melihat malaikat untuk mempercayainya, melainkan mengimaninya berdasarkan wahyu Allah SWT.
Ibunda berpesan bahwa kesadaran terhadap kehidupan gaib hendaknya membentuk pribadi yang lebih berhati-hati dalam bertutur kata, menjaga perilaku, serta tidak meremehkan setiap perbuatan.
Ketiga puterinya pun diajak memahami bahwa kehidupan manusia tidak hanya dinilai melalui apa yang terlihat oleh sesama, tetapi juga berkaitan dengan niat dan pertanggungjawaban amal di hadapan Allah SWT.
Pada bagian berikutnya, pembahasan diarahkan kepada Alam Jabarut sebagai istilah dalam tradisi pemikiran tasawuf yang berkaitan dengan keagungan dan kekuasaan Allah SWT.
Ibunda Siti Muzdalifah mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Tidak ada seorang pun yang mampu menyamai kekuasaan Allah SWT. Kehidupan, kematian, rezeki, dan segala ketentuan berada dalam kekuasaan-Nya.
Pesan tersebut mengajarkan ketiga puterinya agar tidak sombong ketika memperoleh keberhasilan, tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan, serta senantiasa berikhtiar, berdoa, dan bertawakal.
Dalam pemahaman ini, manusia tidak boleh mengklaim mengetahui hakikat seluruh alam gaib atau menyamakan konsep tasawuf dengan ketentuan akidah yang telah ditetapkan Al-Qur’an dan sunah.
Di penghujung pembelajaran, ibunda menyampaikan pesan terpenting kepada ketiga puterinya.

“Bertemu Allah SWT bukanlah sesuatu yang dapat kita tentukan sendiri di dunia. Kita semua akan kembali kepada-Nya. Karena itu, persiapkanlah iman, ibadah, akhlak, dan amal saleh sejak sekarang.”
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi ayat 110, yang mengajarkan agar orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya senantiasa mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan-Nya dalam beribadah.
Bagi kaum perempuan, pemahaman ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan tidak semata-mata diukur dari kecantikan fisik, kedudukan, ataupun harta benda. Ketakwaan, ilmu, kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab merupakan nilai penting dalam membangun kehidupan yang diridai Allah SWT.
Kisah Siti Muzdalifah bersama Saryanti Nugroho, Rahma Azhari Alawiyah, dan Diana Nurillah menjadi gambaran edukasi keluarga bahwa seorang ibunda memiliki peran penting dalam menanamkan nilai keimanan kepada generasi penerus.
Alam Mulk mengingatkan manusia tentang tanggung jawab kehidupan dunia. Alam Malakut mengajak manusia mengimani perkara gaib sebagaimana wahyu Allah. Sementara pembahasan Alam Jabarut menjadi refleksi tentang keagungan dan kekuasaan Allah SWT.
Ketiganya menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat kesadaran spiritual, tanpa mencampuradukkan istilah tasawuf dengan kepastian tentang hakikat alam gaib.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu, marilah menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas), agar perjalanan hidup senantiasa dipenuhi kebaikan dan berakhir dalam keadaan husnul khatimah.
Ada yang mampu menerima beberapa alam tersebut dalam duplik ragam insan di akhwat “bilamana masuk ke bagian pembentukan alam ini terjadi” , apa SIAP Anda Mati?
Menanti itu panjang, melangkah itu terhitung jam, menit, bahkan nafas ini bergerak saja dalam salam beberapa detik saja terhela “menunggu giliran masuk ke sebuah liang alam kuburnya tertidur”.
Redaksi | 6 Nopember 2026
