- Berita Terkini
- Daerah Khusus Jakarta
- Gaya Hidup
- Hukum
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kalimantan
- Karya Sastra
- Keagamaan
- Kebudayaan
- Kesehatan
- Lainnya
- Maluku
- Merauke
- Papua Nugini
- Pendidikan
- Peristiwa
- Plus News
- Sains Dan Teknologi
- Sosial
- Sulawesi
- Sumatera
- Tradisional
Antara Sedih dan Pesan yang Belum Tersampaikan
JST-NEWS, Februari 2 Tutur mengalami dalam kisah sama di hari-Nya – “Antara Sedih dan Pesan yang Belum Tersampaikan,” Kisah menarik mengawali bulan ke-2 setelah Januari. inilah sebuah ilmu membentuk, dalam murni kesejatian, bagaimana itu akal bagaimana itu pikiran? (2/2)
Di antara senja yang perlahan tenggelam dan keheningan yang kian memanjang, ada satu hal yang sering terlambat disadari manusia: pesan kebaikan yang tak sempat disampaikan.
Banyak orang hidup dengan beban penyesalan. Bukan karena tidak pernah berbuat baik, tetapi karena menunda menyampaikan kebaikan. Menunda meminta maaf. Menunda menasihati dengan lembut. Menunda mengingatkan dalam kebaikan. Hingga waktu memutuskan segalanya.
Dalam Islam, waktu bukan sekadar hitungan jam, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Setiap detik adalah peluang menyampaikan kebenaran, karena kita tidak pernah tahu siapa yang lebih dahulu dipanggil pulang.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Ankabut: 57)
Ayat ini bukan hanya peringatan tentang kematian, tetapi juga peringatan tentang urgensi amal sebelum terlambat.
Rasulullah SAW mempertegas misi seorang Muslim dalam kehidupan sosialnya:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini mengandung pesan mendalam: jangan menunggu sempurna untuk menyampaikan kebaikan. Jangan menunggu menjadi alim untuk menasihati. Jangan menunggu waktu luang untuk mengingatkan. Karena bisa jadi, kesempatan itu tidak datang dua kali.
Tafakur: Saat Sedih Menjadi Pengingat
Kesedihan sering kali hadir bukan tanpa makna. Ia menjadi ruang tafakur, ruang muhasabah. Di saat hati terasa berat, di situlah manusia paling dekat dengan kesadaran bahwa hidup ini sementara.
Sedih karena kehilangan. Sedih karena penyesalan. Sedih karena pesan yang tertahan di dalam dada.
Namun Islam tidak mengajarkan kita tenggelam dalam sedih, melainkan mengubah sedih menjadi gerak amal.
Allah SWT berfirman:
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Perhatikan, dalam surat yang sangat singkat ini, Allah menekankan satu hal penting: saling menasihati. Artinya, menyampaikan pesan kebaikan adalah bagian dari penyelamat manusia dari kerugian hidup.
Amaliyah yang Bisa Dilakukan
Agar tidak menjadi bagian dari orang yang menyesal karena pesan yang tak tersampaikan, berikut amaliyah sederhana yang diajarkan dalam Islam:
Biasakan menyampaikan nasihat dengan lembut setiap hari, walau satu kalimat kebaikan.
Perbanyak dzikir dan istighfar, agar hati peka terhadap waktu yang berjalan.
Shalat sunnah dan doa di sepertiga malam, memohon agar Allah memberi keberanian menyampaikan kebenaran.
Memaafkan dan meminta maaf lebih dulu, sebelum ajal mendahului.
Membagikan ayat Al-Qur’an atau hadis setiap hari, sebagai bentuk menjalankan perintah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan yang Tidak Boleh Ditunda
Hidup ini bukan tentang siapa yang paling lama tinggal di dunia, tetapi siapa yang paling banyak meninggalkan pesan kebaikan.
Karena pada akhirnya, yang tersisa bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas. Yang tersisa adalah jejak pesan kebaikan yang pernah kita sampaikan kepada orang lain.
Maka, di antara sedih dan waktu yang terus berjalan, jangan biarkan ada pesan baik yang tertahan.
Semoga bermanfaat dalam informasi dunia yang mengisi berita pada kesejatian itu ketulusan hati direlung perbuatan, ada pada kata dan ada pada e-katalog insan itu mengenal bukan karena nilai. meletakan diakhir itu yang menjadikan kemukminan selamanya pada rundukan kebaikan, ketaatan, serta mencari jalan tujuan kepada kebenaran semata meraih di Allah SWT dan dapat bertemu Nur Muhammad SAW tanpa sabar tak berbatas.

Redaksi | Kabupaten Karanganyar, 2 Februari 2026