BNPB Catatan Peristiwa Flores di NTT “Bencana Gempa 7,7 Terlampir Musibah Mengenai Siapapun Dalam Tak Terduga Alam”
Jakarta β Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026. Hingga Sabtu (22/8) pukul 16.00 WIB, Pos Pendamping Nasional yang dikoordinasikan BNPB mencatat 87 orang meninggal dunia, 1.298 orang mengalami luka-luka, serta 150.576 warga mengungsi di tujuh kabupaten terdampak.
Data tersebut masih bersifat dinamis seiring proses asesmen dan verifikasi di lapangan.(23/8/2026)
BNPB Catatan Peristiwa Flores di NTT “Bencana Gempa 7,7 Terlampir Musibah Mengenai Siapapun Dalam Tak Terduga Alam”
Korban meninggal dunia tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 31 jiwa, Manggarai Timur 30 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Sikka 9 jiwa, Ngada 4 jiwa, Ende 2 jiwa, dan Manggarai Barat 1 jiwa.
Sementara korban luka mencapai 1.298 orang, terdiri atas 336 luka berat, 61 luka sedang, 895 luka ringan, dan 6 orang masih dalam proses pendataan. Dampak terbesar korban luka tercatat di Manggarai Timur sebanyak 643 orang dan Manggarai sebanyak 285 orang.
Jumlah warga yang masih berada di lokasi pengungsian mencapai 150.576 jiwa. Rinciannya, Manggarai 41.427 jiwa, Nagekeo 34.256 jiwa, Manggarai Timur 31.372 jiwa, Manggarai Barat 19.954 jiwa, Sikka 17.587 jiwa, Ende 3.429 jiwa, dan Ngada 2.551 jiwa.
Besarnya jumlah pengungsi menunjukkan bahwa kebutuhan dasar, hunian sementara, pelayanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan masih menjadi prioritas utama pemerintah dan seluruh unsur penanganan bencana.
954 TON Di tengah kondisi tersebut, BNPB mempercepat distribusi bantuan melalui Pos Pendukung Logistik Nasional (Posduklognas) di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sejak 15 hingga 22 Agustus 2026, sebanyak 954.438 kilogram atau sekitar 954 ton bantuan logistik telah didistribusikan menuju Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan tersebut merupakan bagian dari total 1.541.450 kilogram atau sekitar 1.541 ton bantuan yang telah diterima Posduklognas sejak 15 Agustus dari 72 donatur.
Para donatur berasal dari kementerian/lembaga, TNI, BUMN, dunia usaha, organisasi kemanusiaan dan berbagai mitra lainnya. Bantuan mencakup kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar masyarakat, perlengkapan hunian sementara, kebutuhan kesehatan, perlengkapan bayi, perlengkapan kebersihan serta peralatan pendukung penanganan keadaan darurat.
Dari total bantuan yang telah didistribusikan, sekitar 354.438 kilogram dikirim melalui jalur udara TNI Angkatan Udara dengan 28 sortie pesawat Hercules. Sebanyak 16 sortie menuju Labuan Bajo membawa 216.511 kilogram bantuan, sedangkan 12 sortie menuju Maumere membawa 137.593 kilogram. Selain itu, sekitar 600.000 kilogram bantuan yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB dikirim menggunakan pesawat kargo komersial melalui 40 sortie.
Secara kumulatif, distribusi bantuan hingga 22 Agustus mencapai sekitar 651 ton untuk Labuan Bajo dan 303 ton untuk Maumere melalui 68 sortie penerbangan. Pada Sabtu (22/8) saja, Posduklognas mendistribusikan sekitar 147 ton bantuan melalui 10 sortie, terdiri atas 70 ton menuju Labuan Bajo dan 77 ton menuju Maumere.
Penanganan korban juga diperkuat melalui sektor kesehatan. Pada hari kedelapan penanganan darurat, KRI dr. Soeharso-990 tiba di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai.
Kapal rumah sakit milik TNI Angkatan Laut tersebut mendukung pelayanan kesehatan sekaligus menyiapkan rumah sakit lapangan di Lapangan Waso dan Wangkong, Kecamatan Reok, Manggarai. Fasilitas medis KRI tersebut memiliki kemampuan untuk tindakan medis besar serta ruang rawat inap berkapasitas hingga 75 pasien.
Selain KRI dr. Soeharso-990, pelayanan kesehatan masyarakat terdampak juga diperkuat Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga yang beroperasi di Teluk Nangalirang, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Penguatan layanan medis ini menjadi penting mengingat jumlah korban luka mencapai lebih dari seribu orang dan kebutuhan pelayanan kesehatan masih berlangsung di sejumlah titik pengungsian.
Penanganan bencana melibatkan ribuan personel gabungan. BNPB mencatat sedikitnya 5.832 personel TNI, 238 personel Polri, serta 903 relawan dari 104 organisasi telah terlibat sejak hari pertama kejadian. Jumlah tersebut belum termasuk berbagai tim dari kementerian/lembaga, BNPB, pemerintah daerah dan unsur terkait lainnya.
Di sisi lain, aktivitas kegempaan masih menjadi perhatian. BMKG mencatat hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB telah terjadi 5.012 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2 dan terkecil 1,1. Dari jumlah tersebut, 124 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat. Kondisi ini membuat kewaspadaan tetap diperlukan selama proses pemulihan dan penanganan darurat berlangsung.
Besarnya jumlah korban jiwa, korban luka dan pengungsi membuat penanganan gempa NTT tidak hanya membutuhkan distribusi bantuan pangan, tetapi juga pemulihan fasilitas kesehatan, penyediaan hunian sementara, perbaikan rumah, pemulihan layanan publik serta perlindungan terhadap masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, dunia usaha dan organisasi kemanusiaan terus melakukan asesmen serta pendistribusian bantuan secara bertahap. Pemerintah juga harus memastikan bahwa bantuan benar-benar menjangkau masyarakat hingga wilayah yang aksesnya sulit, sekaligus menjaga agar pendataan korban dan kerusakan terus diperbarui secara akurat.
Hingga 22 Agustus 2026, tragedi gempa M7,7 NTT telah menimbulkan sedikitnya 87 korban meninggal dunia, 1.298 korban luka dan 150.576 warga mengungsi. Di tengah besarnya dampak kemanusiaan tersebut, BNPB telah menggerakkan sekitar 954 ton bantuan logistik ke wilayah terdampak.
Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa operasi penanganan bencana masih berada pada fase penting: menyelamatkan korban, memenuhi kebutuhan dasar, menjaga pelayanan kesehatan dan secara bertahap memulai pemulihan kehidupan masyarakat Flores.
laporan – naskahΒ©narasumber/Muktar Kanowa (BNPB – Tim Flores/NTT)*Tim 3 Pers PLUSΒ
Redaksi | 23 Agustus 2026
























