- Berita Terkini
- Banten
- Bengkulu
- Daerah Khusus Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kalimantan
- Keagamaan
- Lainnya
- Maluku
- Merauke
- Modern
- Nasional
- Organisasi
- Papua Nugini
- Pemerintahan
- Plus News
- Serba-serbi
- Sosial
- Sulawesi
- Sumatera
- Tradisional
Nahdlatul Ulama: “Kalo Mau dikata Ulama / Kiyai Temui Terlebih dulu Gusti Allah SWT secara Dzhoir & Bathin”
Jakarta, Nahdlatul Ulama: “Kalo Mau dikata Ulama / Kiyai Temui Terlebih dulu Gusti Allah SWT secara Dzhoir & Bathin” dentuman keras dalam apresiasi wajah-wajah pemimpin dapat tertoreh (22/8/2026)

“mana yang dipilih NU atau dirimu dan keluargamu ” begitu juga, organisasi lainnya .
Ujung demi perundang-undangan umat Islam tertuju dari tawadhu merekat kepada “diri sendiri”, ula’ sing awal ma’ bisa jadi makna ataupun maksud penujuan ke jalan-Nya.
Ki teh’ ningrat di sabdo yai’ wong dikagumi, derajat sing apik sepanjang hidup memuliakan dalam mahkota untuk bersama ilahi robb dan interaktif pada tokoh-tokoh sanak taulani, keluarga, maupun sahabat diperjuangkan “membentuk kalimat Alif Ning lurus, lam sing lika-liku lakone terus menerus untuk kemaslahatan ketika dapatkan ha’.
Maka, dasar pertimbangan dalam neraca bukan untuk jabatan, terapi terapan mengabdi kah? pada suatu cara yang bukan untuk pemilihan kepentingan.
tim 3 Pers PLUS mengulas sudut pandang sisi hal – Alif Lam Lam Ha, belum mengena pada wajah-wajah “Aswaja Al-warisatul An-biyya, belum terlintas atau terwujud semua matang “, melainkan masih (kulit tipis-tipis) di dunia saja. #telematika phscyo.
pengecekan mudah untuk masyarakat, bahwa mencari suatu ulama – kiyai. bukan diletakan pada kedudukan tinggi, ketamakan dunia, bahkan tak melihat jabatan itu berdiri. (Pewaris Para Nabi Muhammad SAW, cukup meniti penitipan ke umatnya – mengantarkan berbagai keilmuan yang terbentuk pada diri masing-masing menuai bentukan secara filosofis jiwa maknawiyah teruji dan ukhrowiyah pun dilaksanakan).
Tabayyun, diri bukan sekedar “egoisme” mencakup di kartu tanda penduduk – Warga Negara Indonesia, mayoritas Islam”, maksud nama itu terpatri bukan pengelompokan, bukan dari partai, bukan dipilih oleh yang mewakili, bukan pula jabatan cukup memegang tulisan : Nahdlatul Ulama
hanya perkara dunia, kedudukan, pangkat tahta di kepengurusan.Β Ujung demi ujung demi,, “kertas kebodohan “.
kertas yang dibuat dari bahan kayu, lebih kokoh kayu nya. kertas dari berakar tujuan tercapai nilai-nilai bahkan hilang dari kader nya. adalagi yang lebih besar – Islam bukanlah dari kelompok golongan organisasi. Ada tujuan bagaimana kita semua bertemu Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW di hari akhir – penantian menuntun itu seluruh umat manusia secara alami wa amaliyah perwujudan diri ke diri masing-masing miliki pondasi mengantarkan keluarga nya; “bukan dipintu gerbang saja”.
dibawa masuk ke jalan terang pendapat yang mudah tanpa menyulitkan diri dan keluarga nya masuk ke mutu pembentukan karakter antara akal pikiran dan hati menuju ilmu kebenaran (bukan, menunggu faedah tambang dijadikan lahan mencari sesuap nasi dari nasib-nasib golongan tersebut).
membuka rumusan dunia, semata cukup wayang kehidupan – memiliki bekal mumpuni menempa akhirat itu akhir cerita pariwayatan jelas dan terang.(Β©)
semua orang tau, dasar hakikat dan makrifat mengenai siapakah dirimu? siapakah keluargamu? siapakah perihal yang membuat dalam – Arti Muktamar isuk menuju kecakapan hidup “memelihara diri itu tetap amanah.”
Catatan : Islam Bukan Organisasi Namun Ilmu Kepemimpinan yang teladan adalah kerukunan bijak dan mulia Islam Bukan Organisasi Namun Ilmu Kepemimpinan yang teladan adalah kerukunan bijak dan mulia.
Ulama Menjelma seluruh Indonesia tegaskan; “belum patut diguguh dan ditiru bekal arti kepemimpinan ANDA”
Alm.KH.Hasyim Asy-as’ari (Embah Uyut Hasyim) mendidik keberadaan para pemimpin bukan melahirkan ubbuduniiyah dan pertikaian pendapat yang sangat merusak dirinya kepada diri-Nya.
Alm.Abah Maimun Zubair (berkata pada alam ilahiyahil wujud-Nya – ndurung pahimnaa gelarmu)
Redaksi | 23 Agustus 2026
























