Jakarta Dini Sang Hati
Jst-News.Com – Menyadur dini hari tepat ahad, menjelang selesai 1/3 malam terbangun diri tak memaksa antara sepi, kewajiban, dan hak sang penyayat bukan disaat terpangku oleh sombong diri jiwa manusia segudang kekayaan tanpa si-miskin tak terhidup oleh suara-suara tahta dan bukan jabatan ahli karena menjabat dimana duduk didikasi kursi tinggi sang pemangku “uang milyaran atau triliunan” mereka akan ( sakit ) berbatas waktu hilang entah kapan pemuji akan nilai harga milik-Nya.
Bumi tak mampu, karena diam akan penebang-penebang sejuk tak bertuan, keropos diri pun lihat batu besar dipecah hingga maut-maut tertatih tanaman batas semua lingkungan hilang oleh sang tuan bertiang kekuasaan.
Sedekah dikit bertuna melihat tak ujung, congkak akan nilai harga karena “nilai harga diri” padahal dibuat tuhan-Nya bukan si ruas tuan titipkan.
Emosi diri dini pagi, kelelahan pagi minggu atau ahad terlintas bundar oleh sajak periang yang ingkar akan itikad bukan embun pagi yang seolah berdetik pergi disaat canda-tawa terpapar diingatan.
Terkadang mudah tak mudah, rasa manis ada begitu juga rasa pahit ada karena cinta. Kecintaan tirakat pagi sampai esok menutup mata tak ujung berdawai kisah.
Oh tuhan-Nya, yang miliki penyakit tak sakiti hukum mematikan karena katakan kau sang pengusaha atau penguasa haus dari memori catatan penuh dibungkus kain putih tak tulus tersirat diolah jadi kepudaran palsu ucap terucap akan pola pikir perubahan.
Jakarta ku panggil, akan dikit saja berikan bahwa kau tak berpikir sekedar sumpah paling kompetitif akan harga jadi “harga diri” terus. Merasa bangga akan pola dan politisi mengedukasi masyarakat belum ada hubungan keluarga tanpa silaturahmi dini di-pagi ini. Sang sejati pena kini berkumandang untuk jejak kaki klasikal hidup tak jadi abadi ataupun kekal.
Melainkan mulia, serta bijak akan kecintaan terhadap konsep semuanya terbit bukan di-bibit semahal harga menjulang selangit karena gerogoti alam-Nya. Tuhan-Nya yang tak marah, akan tetapi karena akal pikiran lika-liku manusia berada pada pemikir antara bakti hak dan kewajiban tak seimbang. Lainnya waktu, cukup bagus semua kental manis asal tak asin asal. Pahit hingga terlupakan bersama kenangan terindah isuk-isuk jadi membesuk karena resah/gelisah “sakit terdiam”
























