Sarasehan PKJ Perspektif Kristen: Nilai Budaya Yogyakarta Selaras dengan Pendidikan Karakter Berbasis Iman
Yogyakarta, β Tim Pengembangan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) Kalangan Kristen menggelar Sarasehan bertajuk βImplementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) dalam Pembelajaran di Sekolah dan Perguruan Tinggi DIY dalam Perspektif Kristenβ di Ruang DJM Yogyakarta, Maguwoharjo, Sleman, Senin (27/7). Kegiatan ini diikuti pimpinan sekolah, yayasan pendidikan, dosen, guru, pendeta, mahasiswa, praktisi pendidikan, serta pemerhati budaya.
Sarasehan menghadirkan Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. yang diwakili Prof. Danisworo dan Dr. Haryadi Baskoro, MA, M.Hum sebagai narasumber serta Prof. Dr. Suroso, M.Pd. M.Th. Dosen Universitas Negeri Yogyakarta sebagai penanggap.

Dalam pemaparannya, Prof. Danisworo menjelaskan bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) merupakan pendidikan karakter berbasis budaya Yogyakarta yang bertujuan membentuk generasi βJalma Kang Utamaβ, yakni manusia yang unggul dalam moral, budi pekerti, dan karakter. PKJ bukan mata pelajaran baru, tetapi diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran maupun mata kuliah yang telah ada.
Ia menegaskan bahwa fondasi PKJ dibangun di atas tiga Core Beliefs, yaitu Hamemayu Hayuning Bawana (manusia dipanggil menjaga dan memperindah kehidupan), Sangkan Paraning Dumadi (manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya), serta Manunggaling Kawula lan Gusti (kesatuan manusia dengan Tuhan yang tercermin dalam kehidupan yang bertanggung jawab). Ketiga nilai tersebut dipadukan dengan lima Core Values, yaitu Hamangku β Hamengku β Hamengkoni, Pamenthanging Gandhewa β Pamenthenging Cipta, Sawiji β Greget β Sengguh β Ora Mingkuh, Mangasah Mingising Budi-Memasuh Malaning Bumi, dan Golong Gilig sebagai dasar pembentukan karakter peserta didik.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini karena mendorong peserta didik memiliki integritas, kepemimpinan yang melayani, kemampuan berpikir kritis, semangat pantang menyerah, kepedulian terhadap lingkungan, hingga semangat persatuan dalam keberagaman. PKJ juga menanamkan budaya sopan santun melalui perilaku NGAJENI, seperti mengucapkan nuwun sewu, matur nuwun, monggo, injih, hingga membiasakan sikap hormat kepada sesama.
Sementara itu, Dr. Haryadi Baskoro menegaskan bahwa masyarakat dan lembaga pendidikan Kristen perlu mendukung implementasi PKJ karena nilai-nilainya tidak bertentangan dengan ajaran Kristen. Justru, PKJ menjadi ruang dialog yang mempertemukan nilai budaya lokal dengan nilai-nilai Injil dalam membangun karakter manusia.
Ia menjelaskan bahwa konsep Sangkan Paraning Dumadi sejalan dengan keyakinan Kristen mengenai manusia sebagai ciptaan Tuhan yang hidup bertanggung jawab kepada Sang Pencipta. PKJ dipandang sebagai bentuk penyataan umum Tuhan melalui budaya, sedangkan iman Kristen memberikan penyataan khusus melalui Alkitab dan Yesus Kristus. Dengan demikian, budaya dan iman dapat berjalan saling melengkapi dalam proses pendidikan.
Dr. Haryadi juga menilai PKJ mampu menjadi sarana memperkuat sinergi antara gereja, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Selain memperkaya Pendidikan Agama Kristen agar lebih kontekstual, PKJ juga menekankan penghormatan terhadap martabat manusia di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, serta membangun karakter melalui kasih yang diwujudkan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa nilai-nilai PKJ dapat menjadi titik temu berbagai denominasi gereja dalam membangun persatuan serta membuka ruang kolaborasi lintas agama melalui nilai-nilai budaya yang bersifat universal tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Melalui sarasehan ini, peserta berharap implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di sekolah dan perguruan tinggi Kristen di DIY tidak hanya memperkuat identitas budaya Yogyakarta, tetapi juga melahirkan generasi yang beriman, berkarakter, berintegritas, mampu berpikir kritis, serta memiliki kepedulian terhadap sesama, lingkungan, dan masa depan bangsa.
Sebagai penanggap, Prof. Dr. Suroso, M.Pd., M.Th., Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, menilai bahwa implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di lingkungan pendidikan Kristen memiliki landasan yang kuat karena nilai-nilai budaya Yogyakarta dapat dipertemukan dengan ajaran Alkitab. Menurutnya, konsep Sangkan Paraning Dumadi sejalan dengan keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:26-27), berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Karena itu, pendidikan harus mengarahkan peserta didik untuk hidup sesuai kehendak Allah dan memuliakan-Nya.
Prof. Suroso juga menegaskan bahwa nilai-nilai PKJ dapat diperkaya melalui ajaran Kristen, seperti pembentukan karakter yang berlandaskan buah Rohβkasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diriβsehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pertumbuhan spiritual dan moral peserta didik. Ia mengingatkan bahwa tubuh manusia adalah bait Roh Kudus dan setiap perkataan maupun tindakan hendaknya dilakukan untuk memuliakan Tuhan
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai-nilai Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh membentuk karakter fokus, semangat, percaya diri yang rendah hati, dan pantang menyerah. Sementara falsafah Hamangku, Hamengku, Hamengkoni mengajarkan kepemimpinan yang bertanggung jawab, melayani, serta menjaga keberlanjutan. Nilai Pamenthanging Gandhewa dan Pamenthenging Cipta mendorong peserta didik berpikir kritis, bijaksana, dan tepat dalam bertindak, sedangkan Mangasah Mingising Budi dan Memasuh Malaning Bumi mengajak setiap insan untuk terus memperbaiki diri sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Menurut Prof. Suroso, seluruh nilai tersebut berpuncak pada semangat Golong Gilig, yaitu membangun persatuan, keselarasan hubungan dengan Tuhan, serta kerja sama antarsesama dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, implementasi PKJ di sekolah dan perguruan tinggi Kristen diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, serta karakter Kristiani yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.
Sarasehan ditutup dengan sosialisasi oleh Divine Journey Ministry pelayanan berbasis Kristen yang aktif melakukan kegiatan rohani, seminar keadilan, dan penjangkauan generasi muda dan membantu fasilitasi tempat acara semua kegiatan pelayanan berbasis penginjilan.
Β
Redaksi | 28 Juli 2026
























