Kresek Media Center, Bocah Angon, FPMI dan FRJRI Gotong Royong Bedah Rumah Nenek Masru’ah; Saat Rakyat Bergerak, Negara Seharusnya Tak Tinggal Diam
KABUPATEN TANGERANG, Indonesia JST NEWS– Di tengah berbagai program pengentasan kemiskinan dan rumah layak huni yang terus digaungkan, sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna justru lahir dari sudut Kampung Andil, Desa Talok, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.
Bukan alat berat pemerintah yang lebih dahulu datang. Bukan pula deretan kendaraan dinas yang memenuhi lokasi. Yang hadir justru tangan-tangan masyarakat, para jurnalis, aktivis, komunitas sosial, dan warga yang bergotong royong mengangkat harapan seorang lansia bernama Nenek Masru’ahagar dapat tinggal di rumah yang aman dan layak.
Kamis (30/7/2026), Kresek Media Center (KMC) bersama Komunitas Bocah Angon, Forum Pemuda Muslim Indonesia (FPMI), serta dukungan DPP Forum Reporter dan Jurnalis Republik Indonesia (FRJRI) menyerahkan bantuan material bangunan untuk mempercepat proses bedah rumah swadaya yang telah berjalan lebih dari dua pekan.
Gerakan kemanusiaan yang dipelopori Media Infoterbit.com, Komunitas Pagobang, dan FPMI tersebut kini telah mencapai sekitar 55 persen progres pembangunan. Sedikit demi sedikit, rumah reyot yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh Nenek Masru’ah mulai berubah menjadi hunian yang lebih layak.

Ketua Kresek Media Center, Ariyanto, mengatakan kepedulian tidak boleh berhenti hanya pada rasa iba. Menurutnya, ketika melihat seorang lansia hidup dalam rumah yang nyaris roboh, semua orang memiliki tanggung jawab moral untuk bergerak.
“Kami melihat Nenek Masru’ah berjuang sendirian di rumah yang hampir rubuh. Karena itu Kresek Media Center tidak ingin hanya menjadi penonton. Kami bangga dapat bergerak bersama Bocah Angon, FPMI, FRJRI, Media Infoterbit dan Pagobang. Ini membuktikan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan terbesar masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Imron R. Sadewo (Bocah Angon) menegaskan bahwa kepedulian bukan diukur dari besarnya bantuan, melainkan dari keikhlasan untuk hadir ketika sesama membutuhkan.
“Apa yang kami bawa mungkin tidak besar nilainya. Namun kami percaya, setiap sak semen, setiap bata, dan setiap genggam kepedulian akan menjadi pondasi harapan bagi Nenek Masru’ah. Sebab rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat seseorang mempertahankan martabat hidupnya,” tutur Bocah Angon.
Ia juga menyampaikan refleksi yang menjadi pengingat bagi semua pihak, khususnya para pemangku kebijakan.
“Yang sedang kami bangun hari ini bukan hanya rumah seorang nenek. Kami sedang menjaga rasa kemanusiaan. Karena sesungguhnya, ketika rakyat harus bergotong royong mengumpulkan material agar seorang lansia memiliki tempat tinggal yang layak, di situlah nurani kita diuji. Negara memiliki program, pemerintah memiliki anggaran, dan masyarakat memiliki hati. Akan jauh lebih indah apabila semuanya berjalan beriringan, sehingga tidak ada lagi lansia yang menunggu belas kasih untuk mendapatkan hak hidup yang layak.”
Senada dengan itu, Wakil Ketua DPP FRJRI, Syarifudin Salim, memastikan organisasinya akan terus ikut mengawal penyelesaian pembangunan rumah tersebut.
“Kami akan menggerakkan seluruh jaringan media anggota FRJRI agar bersama-sama membantu hingga rumah Nenek Masru’ah benar-benar selesai. Kepedulian harus terus hidup, bukan hanya diberitakan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata,” katanya.
Suasana haru menyelimuti lokasi ketika Nenek Masru’ah menerima bantuan tersebut. Dengan mata berkaca-kaca, perempuan lanjut usia itu mengucapkan doa bagi seluruh pihak yang telah meringankan bebannya.
“Terima kasih untuk anak-anakku semua, Kresek Media Center, Bocah Angon, FPMI, FRJRI, Media Infoterbit, Pagobang, dan semua yang telah membantu. Nenek tidak pernah menyangka masih banyak orang baik yang peduli. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan ini dengan keberkahan yang berlipat ganda,” ucapnya sambil menahan air mata.
Gerakan bedah rumah swadaya ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong bangsa Indonesia belum pernah padam. Namun di balik kisah yang menghangatkan hati ini, tersimpan sebuah pertanyaan yang layak menjadi bahan renungan bersama:
Jika masyarakat dengan segala keterbatasannya mampu membangun harapan untuk seorang nenek, maka sudah sepatutnya negara memastikan tidak ada lagi warga lanjut usia yang harus menunggu uluran tangan sesama demi memperoleh hak paling mendasar, yakni tempat tinggal yang layak.
Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari megahnya gedung-gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa besar keberpihakan kepada mereka yang paling lemah dan paling membutuhkan.
Redaksi | 30 Juli 2026
Berita Mendidik Citra Bangsa Dan Negara
























