Selamat datang di JST News Media

Masjid Asy-Syuhada: Muhasabah Hadist Qudsi Menata Hati – Dzikir – Ihsan dan Pertanggungjawaban Manusia

Masjid Asy-Syuhada: Muhasabah Hadist Qudsi Menata Hati – Dzikir – Ihsan dan Pertanggungjawaban Manusia

Jakarta — Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan masa lalu, melainkan proses menghadirkan kesadaran bahwa setiap langkah kehidupan manusia berada dalam pengetahuan dan pengawasan Allah SWT. Dalam ruang muhasabah, seorang Muslim diajak kembali mengenali kedudukannya sebagai ‘abdullah, seorang hamba Allah, sekaligus memahami untuk apa kehidupan diberikan dan ke mana perjalanan manusia pada akhirnya bermuara.(28/9)

Kajian Hadis Qudsi memberikan ruang refleksi yang mendalam mengenai hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Hadis Qudsi berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan memiliki kedudukan khusus sebagai Kalamullah. Adapun Hadis Qudsi merupakan hadis yang di dalamnya Nabi Muhammad SAW menyampaikan sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah SWT, dengan kedudukan dan karakteristik yang berbeda dari Al-Qur’an.

Salah satu Hadis Qudsi yang sangat dikenal menyampaikan makna:

«“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”»

Ungkapan yang masyhur dalam hadis tersebut adalah:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi.»

Pesannya bukan sekadar agar manusia berharap kepada Allah SWT, tetapi juga mengajarkan bahwa husnuzan kepada Allah harus berjalan bersama ikhtiar, ibadah, taubat dan amal saleh. Harapan kepada Allah bukan alasan untuk berhenti berusaha; sebaliknya, keyakinan kepada-Nya menjadi kekuatan untuk terus memperbaiki kehidupan.

Metodologi Kedekatan dengan Allah SWT

Lantas, bagaimana seorang manusia membangun kedekatan dengan Sang Pencipta alam?

Pertanyaan itu membawa manusia kepada inti muhasabah: untuk apa sebenarnya hidup ini dijalani?

Manusia mengejar harta, kesehatan, kedudukan, ilmu, pekerjaan, keluarga dan berbagai cita-cita duniawi. Namun, semua itu pada akhirnya bukan kepemilikan mutlak manusia. Harta dapat berkurang, kesehatan dapat berubah, usia berhenti, jasad kembali kepada tanah, sementara amal menjadi bagian dari pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT.

Karena itu, kalimat “cukup dan disyukuri kepada Allah SWT” bukan berarti berhenti berikhtiar. Ia merupakan kesadaran bahwa setelah manusia berusaha sekuat kemampuan, hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah SWT.

Pengharapan seorang hamba pun pada akhirnya tidak berhenti pada dunia, melainkan tertuju kepada rahmat Allah SWT dan kehidupan akhirat.

Harta, Jiwa, Kesehatan dan Amanah Kehidupan

Muhasabah kemudian menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam:

Hartamu, untuk apa digunakan?

Jiwamu, ke mana diarahkan?

Kesehatanmu, untuk amal apa?

Ilmumu, kepada siapa memberi manfaat?

Waktumu, dihabiskan untuk apa?

Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki pertanggungjawaban. Namun, pertanyaan tentang harta, umur, ilmu dan tubuh bukan berarti seluruhnya harus dipahami sebagai satu kutipan Hadis Qudsi. Sebagian merupakan tema yang dijelaskan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW mengenai pertanggungjawaban manusia atas nikmat yang diberikan kepadanya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa pada hari kiamat seorang manusia tidak akan bergeser sebelum ditanya antara lain tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.

Pesan tersebut menjadi fondasi penting dalam muhasabah: nikmat bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Ruh, Jasad dan Perjalanan Kembali

Pertanyaan tentang ruh dan jasad juga membawa manusia kepada kesadaran tentang keterbatasan kehidupan dunia.

Jasad yang hari ini dirawat, dijaga dan dihiasi pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Sakit mengingatkan manusia tentang kelemahan dirinya. Sehat mengingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Usia mengajarkan bahwa waktu terus berjalan.

Karena itu, sakit bukan semata-mata penderitaan dan sehat bukan semata-mata kenyamanan. Keduanya dapat menjadi ruang pengingat agar manusia semakin mengenal keterbatasannya dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Di sinilah konsep ihsan menemukan maknanya: beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya; dan apabila manusia tidak mampu mencapai keadaan itu, ia menyadari bahwa Allah senantiasa melihatnya.

Kesadaran tersebut bukan sekadar teori keagamaan, tetapi menjadi fondasi etika. Seseorang yang merasa diawasi Allah akan lebih berhati-hati terhadap perkataan, perbuatan, harta, kekuasaan dan hubungan dengan sesama.

Muhasabah juga mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti ketika salam shalat diucapkan. Setelah shalat, seorang Muslim yang mukmin dianjurkan berdzikir, berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Namun, ungkapan bahwa “jika tidak berdoa kepada Allah setelah shalat maka semua ibadah tertolak” perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak terdapat dasar yang dapat digunakan untuk menyatakan secara umum bahwa seseorang yang tidak berdoa setelah shalat otomatis membuat seluruh shalatnya tertolak.

Yang lebih tepat, doa setelah shalat merupakan salah satu bentuk penghambaan dan pengharapan kepada Allah. Seorang hamba tidak hanya meminta ketika berada dalam kesulitan, tetapi juga mengingat Allah ketika mendapatkan nikmat.

Dengan demikian, doa menjadi bahasa kerendahan hati: manusia mengakui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Memperindah Diri secara Maknawiyah dan Ukhrawiyah

Mengapa semua itu penting dikaji?

Karena Islam tidak hanya mengajarkan bentuk lahiriah ibadah, tetapi juga membangun keutuhan iman, akhlak dan kesadaran batin.

Shalat membentuk kedisiplinan spiritual.

Dzikir menghidupkan ingatan kepada Allah.

Doa menumbuhkan ketergantungan kepada-Nya.

Muhasabah mengoreksi perjalanan diri.

Ihsan membentuk kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui perbuatan manusia.

Keseluruhannya menjadi bagian dari upaya memperindah diri, bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga secara maknawiyah dan ukhrawiyah.

Sebagaimana pesan yang disampaikan Ust.Wagino Salim, “Aku bersama hamba Allah SWT yang gemar berdzikir— mengingat-Nya.” Pesan tersebut dapat ditempatkan sebagai refleksi bahwa dzikir bukan sekadar pengulangan lafaz, melainkan usaha menghadirkan Allah dalam kesadaran kehidupan sehari-hari.

Ketika Kejahatan Dipilih, Pertanggungjawaban Mengikutinya

Al-Qur’an memberikan peringatan bahwa manusia harus berhati-hati terhadap dorongan keburukan yang dapat menjerumuskannya.

QS Al-Baqarah ayat 169:

«إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ»

Artinya:

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

(QS Al-Baqarah: 169)

Ayat tersebut berada dalam rangkaian peringatan agar manusia tidak mengikuti langkah-langkah setan. Konteksnya menegaskan bahwa manusia harus menggunakan kesadaran dan petunjuk Allah untuk membedakan jalan kebaikan dan keburukan.

Karena itu, ketika manusia memilih kejahatan, ia tidak dapat melepaskan diri dari konsekuensi moral dan pertanggungjawaban atas perbuatannya. Al-Qur’an juga menegaskan prinsip pertanggungjawaban amal manusia dalam banyak ayat, antara lain:

«فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ»

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”

(QS Az-Zalzalah: 7–8)»

Muhasabah sebagai Jalan Kembali

Pada akhirnya, muhasabah mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk bertanya kepada dirinya sendiri:

Sudahkah hidup ini digunakan untuk mendekat kepada Allah?

Sudahkah harta menjadi sarana kebaikan?

Sudahkah ilmu memberikan manfaat?

Sudahkah kesehatan digunakan untuk beribadah?

Sudahkah lisan dijaga dari menyakiti sesama?

Sudahkah hati dibersihkan dari kesombongan, iri dan kebencian?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk membuat manusia berputus asa, melainkan untuk membuka pintu perbaikan.

Sebab, seorang hamba yang bermuhasabah tidak berhenti pada penyesalan. Ia mengubah penyesalan menjadi taubat, kesadaran menjadi amal, ilmu menjadi akhlak, dan dzikir menjadi perilaku kehidupan.

Dzikir menghidupkan ingatan.

Muhasabah menata kesadaran.

Ihsan menjaga perilaku.

Iman memberikan arah.

Dan taubat membuka jalan kembali kepada Allah SWT.

Di situlah manusia memahami hakikat perjalanan hidup: datang dari Allah, menjalani amanah kehidupan dengan ikhtiar, kemudian kembali kepada-Nya dengan membawa amal dan pengharapan atas rahmat-Nya.

Naskah dikirimkan oleh – Panitia Kajian Masjid Asy-Syuhada*

Redaksi | 28 September 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page

Click to listen highlighted text!