Ancaman di Balik Pena: Oknum Wartawan Senior dan Praktik Kotor di Aceh
![]()
JST-News | Di Banda Aceh, praktik-praktik buruk menggerogoti dunia jurnalistik. Oknum wartawan senior, bahkan yang berada di posisi strategis, memanfaatkan profesi mereka untuk kepentingan pribadi, jauh dari idealisme jurnalistik. Mereka bukan lagi pembawa informasi, melainkan pemburu rente yang menggunakan atribut wartawan sebagai kedok.
Usia senja tak menghalangi mereka mengejar keuntungan. Mereka membentuk kelompok yang mengancam pejabat dan menyebarkan tudingan murahan. Perilaku ini, yang awalnya dilakukan di warung kopi, kini bergeser ke tempat yang lebih tertutup karena ulah mereka terendus oleh jurnalis muda.
Alih-alih introspeksi, mereka justru memperkuat kelompok dan strategi. Parahnya, beberapa melibatkan anak-anak mereka dalam praktik menerima amplop dan menjadi makelar proyek. Anak-anak diajarkan meminta iklan dan menyodorkan proposal, mencoreng citra profesi. Ini bukan regenerasi, melainkan dekadensi moral.
Mereka bertindak sebagai makelar proyek, mulai dari baliho hingga pembangunan rumah sakit. Jika mendapat bagian, mereka memuji; jika tidak, berita negatif pun bermunculan. Redaksi menjadi alat tekanan, dan wartawan menjadi juru minta, bukan penyampai informasi. Mereka juga kerap menyudutkan media lain.
Beberapa oknum memiliki riwayat buruk dalam urusan perempuan, diduga melecehkan rekan kerja atau menggoda istri orang. Reputasi mereka bukan karena karya jurnalistik, melainkan karena intimidasi. Praktik ini juga terjadi di Sabang. Ketua organisasi kewartawanan setempat menyatakan kekhawatirannya, namun para pelaku merasa kebal hukum.
Eri Is, Wid, dan pimpinan redaksi lainnya, dalam wawancara 3 Mei 2025, mengecam praktik ini. Mereka menegaskan bahwa pers bukan tempat berlindung bagi preman intelektual, dan kebebasan pers bukan berarti kebebasan menekan. Mereka yang menyalahgunakan profesi adalah pengkhianat.
Dunia pers bukan ladang pemalakan. Wartawan bukanlah tentara bayaran atau makelar proyek. Aparat penegak hukum dan organisasi pers harus bertindak tegas. Jika dibiarkan, publik kehilangan kepercayaan, dan profesi jurnalistik kehilangan kehormatan. Pena yang tajam hanya milik mereka yang jujur.
Risa Azhari(Red)
