Selamat datang di JST News Media

PEMBENTUKAN KONSORSIUM LANSKAP MANGROVE BANTEN, DORONG PENANAMAN 1 JUTA MANGROVE DI PESISIR BANTEN

PEMBENTUKAN KONSORSIUM LANSKAP MANGROVE BANTEN, DORONG PENANAMAN 1 JUTA MANGROVE DI PESISIR BANTEN

TANGERANG, Indonesia JST NEWS — Upaya memperkuat pelestarian ekosistem pesisir Banten memasuki langkah baru melalui pembentukan Konsorsium Lanskap Mangrove Banten. Kegiatan tersebut berlangsung di Taman Mapuca, Kawasan Wisata Pulo Cangkir, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Jumat (25/9/2026).

Konsorsium ini mengusung semangat “Selamatkan yang Masih Ada”, sekaligus mendorong gagasan penanaman hingga 1 juta mangrove di wilayah pesisir Provinsi Banten. Namun, gerakan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada jumlah pohon yang ditanam. Lebih jauh, terdapat upaya untuk menjaga mangrove yang telah tumbuh, memulihkan kawasan yang mengalami degradasi, serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekosistem pesisir.

Mangrove merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah pesisir. Vegetasi ini dapat membantu meredam energi gelombang, menahan sedimen, mengurangi tekanan terhadap garis pantai, serta menyediakan habitat dan tempat berkembang biak bagi berbagai biota. Keberadaannya juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya pesisir.

Karena itu, menjaga mangrove bukan hanya persoalan menanam pohon. Menjaga mangrove berarti menjaga ekosistem, melindungi kawasan pesisir, sekaligus mempertahankan ruang kehidupan masyarakat.

Kawasan Kronjo, Kabupaten Tangerang, menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendekatan tersebut. Pelestarian mangrove dapat berjalan berdampingan dengan edukasi lingkungan, pengembangan wisata pesisir, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Mengusung gagasan “Selamatkan yang Masih Ada”, pengembangan lanskap mangrove diharapkan dapat membangun kesinambungan kawasan pesisir mulai dari wilayah utara Banten hingga Merak.

Dari Konservasi Menjadi Nilai Ekonomi

Upaya pelestarian juga dapat diarahkan pada pemanfaatan secara bertanggung jawab. Sejumlah jenis tumbuhan mangrove dan vegetasi pesisir diketahui memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan maupun produk turunan lainnya, dengan proses pengolahan yang sesuai karakteristik masing-masing jenis.

Makmun Muzakki menyampaikan pentingnya menjaga lahan mangrove yang masih tersisa melalui kepedulian dan kolaborasi berbagai pihak.

“Selamatkan lahan yang masih ada. Dari pesisir utara sampai Merak, pesisir pantai wilayah Banten harus kita jaga. Jangan sampai mangrove yang masih tersisa hilang begitu saja,” ujarnya.

Menurutnya, mangrove juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah bagi masyarakat.

“Kami merasakan sirup mangrove yang begitu nikmat dan khas, dodol mangrove, keripik daun mangrove, hingga produk yang diolah menjadi sabun mandi. Ini menunjukkan bahwa mangrove begitu kaya akan manfaat,” tuturnya.

Potensi tersebut membuka ruang edukasi bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penjaga ekosistem, tetapi juga dapat mengembangkan kreativitas dan kegiatan ekonomi berbasis sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

Pidada Kronjo dan Potensi Produk Olahan

Di kawasan Kronjo, salah satu jenis yang mendapat perhatian adalah pidada atau Sonneratia.

H. Heru, pengelola Mapuca Kronjo, menjelaskan bahwa sebagian jenis mangrove memiliki potensi untuk dimanfaatkan melalui pengolahan yang tepat.

“Sebagian mangrove bisa diolah. Salah satunya pidada, yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk,” ujar H. Heru.

Sejumlah tanaman pesisir lainnya, seperti api-api (Avicennia), lindur (Bruguiera), bakau (Rhizophora), nipah (Nypa fruticans), serta jeruju (Acanthus ilicifolius), juga memiliki potensi pemanfaatan tertentu. Produk yang dapat dikembangkan dalam berbagai kajian antara lain pangan olahan, minuman, tepung, teh, serta produk turunan lainnya.

Meski demikian, pemanfaatan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Identifikasi jenis, bagian tanaman yang digunakan, keamanan bahan, teknik pengolahan, serta aspek keberlanjutan perlu menjadi perhatian agar kegiatan ekonomi tidak justru merusak ekosistem yang hendak dilestarikan.

Dengan demikian, konsep yang dikembangkan bukan “ambil dari mangrove sebanyak-banyaknya”, melainkan bagaimana potensi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya.

Dari Pesisir Kronjo Menuju Pasar Lebih Luas

H. Heru berharap produk berbasis mangrove dapat terus dikembangkan sehingga memiliki daya saing lebih luas.

“Harapannya, produk mangrove ini bisa terus dikembangkan sehingga ke depan mampu menembus pasar ekspor, termasuk ke Jepang,” jelasnya.

Harapan tersebut sekaligus menjadi tantangan. Untuk dapat masuk ke pasar ekspor, produk tidak cukup hanya memiliki keunikan bahan baku. Diperlukan kualitas produk, keamanan pangan apabila berupa produk konsumsi, standardisasi, kemasan, legalitas, konsistensi produksi, serta kemampuan memenuhi persyaratan pasar tujuan.

Artinya, mangrove dapat menjadi sumber inspirasi ekonomi, tetapi keberlanjutan ekosistem harus tetap menjadi fondasinya.

Edukasi dan Ekosistem Menjadi Kunci

Pengembangan lanskap mangrove Banten juga memiliki dimensi edukasi. Masyarakat dan generasi muda perlu memahami bahwa kawasan pesisir bukan sekadar ruang wisata atau tempat mencari penghasilan, melainkan ekosistem yang memiliki fungsi ekologis dan sosial.

Kegiatan penanaman harus diikuti dengan pemeliharaan. Bibit yang ditanam perlu dipastikan dapat tumbuh, kawasan yang telah ada harus dijaga, dan masyarakat sekitar perlu dilibatkan dalam pengelolaan.

Dengan pendekatan tersebut, target 1 juta mangrove tidak berhenti menjadi angka, tetapi menjadi bagian dari gerakan yang memiliki dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Konservasi dan ekonomi masyarakat pun dapat ditempatkan dalam satu garis yang saling mendukung. Ekosistem dijaga, potensi lokal dikembangkan, masyarakat diberdayakan, sementara produk yang dihasilkan diarahkan untuk memenuhi standar pasar yang lebih luas.

Dalam kegiatan pembentukan Konsorsium Lanskap Mangrove Banten tersebut turut hadir Makmun Muzakki, Ade Parhatun, Taya, Hasan, H. Makdis Adhari, dan Jayadi Wibowo.

Pembentukan konsorsium diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerhati lingkungan, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, pengelola wisata, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi tersebut penting untuk membangun satu visi: menyelamatkan mangrove yang masih ada, menanam kembali kawasan yang membutuhkan pemulihan, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan membuka peluang ekonomi tanpa mengorbankan ekosistem.

Dari pesisir Kronjo, gagasan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas di sepanjang pesisir Banten.

Sebab, mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di antara daratan dan laut.

Ia adalah benteng alami pesisir, rumah bagi kehidupan, ruang belajar bagi generasi, sekaligus potensi ekonomi yang harus dikelola dengan pengetahuan dan tanggung jawab.

Menanam adalah awal.

Merawat, menjaga, memanfaatkan secara bijak, dan memastikan ekosistem tetap hidup—itulah pekerjaan yang sesungguhnya. (*)

Imron R Sadewo,C.BJ (Bocah Angon) — Tim |
Indonesia JST NEWS
Berita Mendidik Citra Bangsa Dan  Negara

Redaksi | 25 September 2026

Journalist Social Them - Your Share Media Social Acsess Online Integrity Network

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page

Click to listen highlighted text!