- Berita Terkini
- Asia
- Daerah Khusus Jakarta
- Ekonomi
- Internasional
- Kesehatan
- Kuliner
- Lainnya
- Modern
- Nasional
- Pemerintahan
- Plus News
- Sains Dan Teknologi
- Serba-serbi
- Sosial
- Tradisional
GUBERNUR DIPILIH RAKYAT ATAU KEKUASAAN – SPELE IKAN SAPU-SAPU EKSPOSE❓SDM DAN ALAT PERSIAPKAN BUKA INDUSTRI PENGHASIL JAKARTA KOLABORATIF SECARA BENAR
JAKARTA – Di satu sisi ia disebut hama invasif perusak tanggul, Di sisi lain : ia diolah jadi siomay, bahkan campuran bakso lho… lolos ke pasar Asia dan Eropa. Inilah ironi ikan sapu-sapu di Ibu Kota: diburu untuk dimusnahkan, sekaligus diburu pengepul karena nilai dolarnya.*Instruksi Musnah: Alasan Ekologis vs Potensi Ekonomi.Pemusnahan massal di Jakarta berbenturan dengan riset gizi dan potensi ekonomi Pterygoplichthys pardalis.(13/4/2026)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menginstruksikan operasi pembersihan ikan sapu-sapu di seluruh wilayah Jakarta. Alasannya: spesies asal Amerika Selatan ini membuat lubang di dinding sungai untuk bertelur, mengeroposi struktur tanah bawah tanggul dan meningkatkan risiko jebol. Selain itu, ikan ini memakan telur ikan lokal dan tak punya predator alami. (Minggu,12/4)
Kepala Dinas KPKP DKI, Hasudungan A. Sidabalok, menambahkan alasan kesehatan: uji sampel Kali Ciliwung menemukan tingkat pencemaran “mengerikan” pada ikan sapu-sapu. Logam berat seperti arsen, kadmium, dan timbal terdeteksi melebihi batas aman konsumsi manusia. Logam ini bioakumulatif dan tak hilang lewat pemasakan. *Di Balik Lumpur: Klaim Gizi dan Pasar Global.
Namun riset berkata lain soal potensi. Penelitian Elfidasari et al. 2019 pada ikan sapu-sapu Sungai Ciliwung mencatat protein 45–50% dan lemak rendah ∼1%. Artinya, secara teoritis, ia layak sebagai sumber protein hewani.
Olahan abon dari ikan ini bahkan menunjukkan protein 39,08% dan lemak 30,59%. Kandungan lain yang disebut: kalsium, fosfor, vitamin B. Proteinnya membantu perbaikan jaringan tubuh, kalsium dan fosfornya menguatkan tulang.
Di lapangan, ikan yang dianggap sampah ini justru jadi rebutan pengepul saat musimnya. Media sosial ramai membahasnya sebagai bahan siomay dan abon untuk menekan biaya produksi. Buku taksonomi 2023 juga menyebut “nilai ekonomis” ikan sapu-sapu, meski IUCN mengklasifikasikannya sebagai spesies invasif.
*Dua Mata Pisau: Budidaya Terkontrol vs Tangkapan Liar*
Kontradiksi ini punya satu kunci: sumber ikan. “Apabila ikan sapu-sapu yang digunakan berasal dari sumber sistem budidaya yang terkontrol, maka potensi kontaminasi dapat diminimalkan,” tulis Catalyst Consulting. Masalah muncul ketika ikan ditangkap dari perairan tercemar seperti Ciliwung. Di sana, risiko logam berat jadi nyata.
Pemusnahan total berarti menutup pintu riset budidaya dan hilirisasi. Padahal, ikan dengan protein >45% dan harga tangkap murah bisa jadi solusi pangan alternatif—asal airnya bersih. “Kelayakan gizi tidak dapat dipisahkan dari aspek keamanan pangan,” tegas riset yang sama.
Tajamnya Dilema Kebijakan – Pemprov DKI memilih pendekatan ekologis: basmi sebelum tanggul jebol. Wajar, sebab dampaknya ke infrastruktur dan banjir. Tapi keputusan itu menyisakan tanya: apakah “memusnahkan bersama perangkat lunak sistemnya” berarti menutup riset pemanfaatan?alasan tak masuk akal sehat.
Ikan sapu-sapu kini jadi simbol benturan tiga hal: krisis ekologi, krisis pangan murah, dan krisis tata kelola. Ia merusak jika liar di sungai kotor. Ia bergizi jika dibudidaya bersih. Ia berharga jika diolah benar.
Membunuhnya lalu mengubur bangkai justru mencemari tanah sekitar. Sementara negara tetangga dan Eropa sudah melirik dagingnya.
Pertanyaannya bukan lagi “ikan ini berguna atau merugikan?”. Pertanyaan yang tepat: “Kita mau kelola dengan akal yang mana?” Sebab alam sudah ciptakan variannya. Tinggal manusia—termasuk pemangku kebijakan—memilih: jadi perusak, atau pengelola.
Jika yang sepele bisa berdampak besar, maka keputusan yang terburu-buru juga bisa menutup rezeki ratusan dolar per kapasitas produksi. Riset dulu, baru eksekusi. Bukan sebaliknya.
Suara Rakyat Klaim “minyak 50% mengobati luka” dan “antioksidan 7%” belum ditemukan dalam jurnal ilmiah yang diakses. Riset terpublikasi menyebut lemak ikan sapu-sapu justru rendah ∼1% dari Ciliwung, namun abon olahannya bisa 30,59%. Perlu uji lab lanjutan untuk verifikasi manfaat farmakologis. sampai didunia ilmu kedokteran saja, dijadikan terus mengkaji ikan sapu-sapu ini.
WAH!!! penataan yang salah kaprah – hewan saja berani dimusnahkan, bisa-bisa kebijakan rakyat menyampaikan sesuatu implementasi riset pun bisa dikeluarkan dari sebuah kamuflase pemimpin. berhati-hatilah jadi pemimpin; etika peradaban menanti apakah baik? jadi lebih benar menata kota Jakarta.
Redaksi | 13 April 2026
