- Karya Sastra
- Asia
- Banten
- Bengkulu
- Daerah Khusus Jakarta
- Gaya Hidup
- Internasional
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kalimantan
- Lainnya
- Maluku
- Merauke
- Papua Nugini
- Plus News
- Selebrity
- Serba-serbi
- Sosial
- Sulawesi
- Sumatera
Embun Shubuh
Embun Subuh — Di ujung malam yang mulai menipis, embun Subuh jatuh perlahan di atas bumi yang masih terlelap. (13/3)
Udara terasa lembut, seakan waktu sendiri menundukkan kepala dalam keheningan yang khusyuk.
Pada saat itulah, langit seakan membuka tirainya — memberi ruang bagi doa, harap, dan bisikan hati yang paling jujur.
Dalam sunyi yang bersih dari hiruk pikuk dunia, malaikat Subuh digambarkan hadir dengan ketenangan yang memeluk waktu.
Senyum mereka seakan menjiwai setiap retasan detik yang lahir bersama cahaya pertama. Hangat, lembut, dan penuh pengharapan.
Subuh bukan sekadar pergantian waktu.
Ia adalah halaman baru bagi jiwa yang ingin memulai kembali.
Di antara butir-butir embun yang menempel di dedaunan, tersimpan pesan yang sederhana namun dalam: “bahwa setiap pagi selalu membawa kesempatan untuk memperbaiki langkah dan menata niat.”
Begitulah Subuh bekerja — diam-diam, tetapi penuh makna.
Ia hadir tanpa suara, namun mampu menenangkan hati yang gelisah.
Di sanalah manusia belajar bahwa ketulusan doa dan keheningan iman sering kali lahir dari waktu yang paling sunyi.
Karya Tulis: Ade D, salam netizens media rakyat ): pak / ibu.
( Email: redaksi@jst-news.com — 13 Februari 2026)
Thanks, Redaksi Media Platfrom Digital Siber Online
Diterbitkan Redaksi | Jakarta, 13 Maret 2026
























