- Berita Terkini
- Daerah Khusus Jakarta
- Jawa Barat
- Karya Sastra
- Plus News
- Politik
- Selebrity
- Serba-serbi
Teteh’ Dr.Desi Ratnasari,M.Si, M.Psi, Psi : BALIK PINTU — ADA DIA?
BALIK PINTU — ADA DIA?
Catatan Harian Kehidupan

Karya Tulis: Teteh’ Dedi Ratnasari, M.Si.M.Psi., Psi
Malam itu tidak terlalu ramai.
Langit menggantungkan mendung panjang di antara lampu-lampu kota yang mulai kehilangan cahaya. Aku duduk sendiri di dekat jendela, memandangi jalan yang perlahan basah oleh hujan. Entah mengapa, malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di meja kecil dekat secangkir kopi yang mulai dingin, ada satu tulisan yang terus mengganggu pikiranku:
“Di Balik Pintu — Ada Dia?”
Kalimat itu sederhana.
Namun ketika dibaca lebih dalam, rasanya seperti sedang mengetuk ruang paling sunyi dalam diri manusia.
Aku teringat perjalanan hidup beberapa tahun terakhir. Tentang bagaimana dunia memaksa banyak orang berlari tanpa benar-benar tahu arah pulangnya. Tentang manusia-manusia yang setiap hari terlihat tersenyum di tempat kerja, tetapi diam-diam sedang kehilangan dirinya sendiri.
Dunia hari ini terlalu sibuk mengajarkan cara menjadi hebat, namun lupa mengajarkan cara menjadi manusia.
Karier akhirnya berubah menjadi perlombaan panjang yang melelahkan. Banyak orang mengejar jabatan seperti mengejar keselamatan hidup. Mereka rela mengorbankan waktu, hati, bahkan kesehatan batin demi sebuah pengakuan yang belum tentu membuat bahagia.
Aku pernah berada di titik itu.
Bangun pagi dengan target.
Tidur malam dengan kecemasan.
Semua terasa cepat. Semua terasa keras.
Sampai suatu hari aku sadar, bahwa hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan. Tetapi tentang siapa diri kita selama perjalanan itu berlangsung.
Dan mungkin… itulah makna dari “dia” yang dimaksud dalam tulisan tersebut.
“Dia” bukan sekadar seseorang di balik pintu.
Melainkan versi terbaik dari diri kita sendiri yang selama ini tertinggal.
Kadang manusia terlalu sibuk menjadi apa yang diinginkan lingkungan, sampai lupa mendengar isi hatinya sendiri. Kita dipaksa tampil kuat, tampil berhasil, tampil sempurna — padahal diam-diam sedang rapuh.
Perempuan dalam ilustrasi itu tampak sederhana. Berdiri tenang tanpa banyak ekspresi. Namun justru dari kesederhanaannya, ada pesan yang terasa sangat dalam: tidak semua orang yang diam berarti lemah. Sebab sering kali manusia paling kuat adalah mereka yang mampu bertahan dalam sunyi.
Burung kecil di dekatnya seperti lambang harapan.
Harapan bahwa setiap luka hidup masih memiliki jalan pulang. Harapan bahwa di balik pintu kegagalan, masih ada kesempatan untuk lahir menjadi pribadi yang lebih utuh.
Aku percaya, tidak semua perjalanan karier harus dipenuhi tepuk tangan. Ada orang-orang yang berjalan pelan, tetapi langkahnya membawa makna bagi banyak kehidupan. Mereka mungkin tidak viral, tidak terkenal, namun tetap hidup dengan hati yang bersih.
Dan di zaman yang penuh pencitraan seperti sekarang, itu adalah kemewahan yang mulai langka.
Malam semakin larut.
Hujan perlahan reda.
Aku kembali menutup catatan harian itu dengan satu pemahaman sederhana:
Bahwa hidup bukan tentang siapa paling dipandang dunia.
Melainkan siapa yang tetap mampu menjaga dirinya sendiri ketika dunia mulai berubah.
Karena pada akhirnya, setiap manusia pasti berdiri di depan pintunya masing-masing.
Dan saat pintu itu terbuka, mungkin yang ditemukan bukan orang lain.
Melainkan dirinya sendiri…
yang selama ini diam menunggu untuk dipahami.
Disusun oleh kordinator.cabang/PAN/Jakarta – Utara
Redaksi | 17 Mei 2026
























