KH. Mufti Asnawi, Ulama Cakung Binuang yang Menanam Ilmu dan Membangun Peradaban Melalui Pesantren
Serang, Banten, Indonesia JST NEWS – Di tengah derasnya arus modernisasi, jejak para ulama tetap menjadi mata air peradaban yang tak pernah kering. Salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam di Banten adalah KH. Mufti Asnawi, ulama kharismatik asal Kampung Cakung Srewu, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang. Senin, 29 Juni 2026
Lahir pada 2 Januari 1935, KH. Mufti Asnawi dikenal sebagai sosok yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Berbekal pendidikan agama yang diperoleh sejak usia muda dari keluarga serta para ulama, beliau kemudian tumbuh menjadi pendidik yang disegani. Riwayat yang dipublikasikan pihak pesantren menyebutkan beliau memiliki garis nasab yang dikaitkan dengan Syekh Ciliwulung, salah satu tokoh penyebar Islam di wilayah Banten Utara.
Tonggak perjuangan beliau dimulai pada tahun 1962 dengan mendirikan Pondok Pesantren Darul Hikmah di Desa Cakung. Pesantren tersebut lahir dari semangat menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlak, karakter, dan kepedulian sosial para santri.
Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Darul Hikmah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menaungi berbagai jenjang pendidikan formal, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga Raudlatul Athfal. Dari pesantren inilah lahir banyak alumni yang mengabdi sebagai guru, dai, tokoh agama, dan pelayan masyarakat di berbagai daerah.
Dalam tradisi yang berkembang di lingkungan pesantren, nama “Syekh Ciliwulung” kemudian disematkan setelah KH. Mufti Asnawi mendapat ilham melalui mimpi yang diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada ulama penyebar Islam terdahulu. Sejak saat itu, pesantren tersebut dikenal sebagai Pondok Pesantren Darul Hikmah Syekh Ciliwulung.
Corak pendidikan yang diwariskan KH. Mufti Asnawi berpijak pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, fikih Mazhab Syafi’i, akidah yang moderat, serta pembinaan akhlak. Bagi beliau, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari luasnya ilmu, tetapi juga dari kejujuran, kesederhanaan, dan manfaatnya bagi masyarakat.
Hingga kini, warisan perjuangan KH. Mufti Asnawi masih terus hidup melalui aktivitas pendidikan, dakwah, serta peringatan haul yang rutin dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau dalam membangun peradaban Islam di Banten.

Catatan Bocah Angon – ENSIKLOPEDIA
Sejarah sering kali lebih mengingat bangunan-bangunan megah. Namun sejatinya, peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang ikhlas mengajarkan ilmu.
KH. Mufti Asnawi membuktikan bahwa pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan tempat lahirnya karakter, akhlak, dan kepemimpinan. Dari sebuah kampung di Cakung Binuang, beliau menanam benih ilmu yang hingga hari ini masih tumbuh, memberi teduh bagi umat, dan menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.
“Bangunan boleh dimakan usia, tetapi ilmu yang diajarkan dengan keikhlasan akan terus hidup dalam setiap santri yang mengamalkannya.” (*)
— Bocah Angon | Ensiklopedia Tokoh Nusantara
Redaksi | 29 Juni 2026
























